Lore of Gore III: Dekonstruksi

Tarian para suster mengiringi rana ini menjelajah langit-langit rumah sakit yang bersih tanpa sedikitpun bercak darah, dan ampas organ yang berceceran. Hanya ada deretan pelita lampu putih yang menyilaukan, menyorot memberi bentuk yang memayungi beragam sudut di ruangan, koridor, hingga sela sela lipatan, dan uraian organ tubuhku yang berserakan.

Mereka berkilau, tiada berkilah atas ketidakfungsiannya mengalirkan denyut nadi dan wadah jadi terampil. Aku terlentang layaknya serangga yang diawetkan.

Berbeda jauh dari mereka, aku disajikan layaknya purnarupa sebuah organisme. Dengan rangkai rakit organ yang dapat disusun dalam beragam pola dan alur hingga meracik sebuah mekanisme.

Mekanisme atas fungsi.

Kalau jamur itu namanya fungi.

Mungkin inginku akan terbangun dan hidup telah berjamur. Layaknya motivasi dari para penggali dubur yang terjemur. Aku menyeret tungkaiku hingga terkoyak demi menuju tujuan hidup. Namun segala tuju hanyalah ceruk dari jurang ketiadaan yang berlumuran nanah; mengajak mereka yang mengintip di tepiannya untuk terpeleset dan terjerumus dalam sebuah pola yang berulang.

Sebuah limbo. Sebuah ketiadaan yang dicanangkan sebagai sebuah keberadaan.

Kembali ke ruang otopsi, aku tetap menyala dengan nisbi.

Mereka dapat melihat tatapku dari kedua bola mata yang telah berada di luar rongganya. Tatapku menjalar, merunut segala pembuluh nadi yang tercecar, diluar wadah manusiaku. Mulutku menganga, tanpa selaput bibir dan menunjukkan deretan gigi-gigi yang telah berguguran.

Para suster tak bertungkai masih saja menari. Seolah meminta sebuah pelatuk bara agar aku menyala dan kembali terbangun dari sela-sela jemari kuasanya.

Apakah jawab dari sebuah tuju? Bercak darah segarku menjawabnya dengan pola morse di samping pembaringan.

Apakah arti dari segala tuju? Bercak darahku telah mengurainya dari awal aku datang dan dipisah-pisahkan oleh dokter dengan rahang yang menganga. Dalam pola biner.

Apakah arti dari mimpi yang menyala dalam gelap? Menjebak segala harap dengan tepat. Menjerumuskan segala misi yang mengisi relung hati. Hatiku yang berkerak menghitam legam karena terlalu banyak menyia-nyiakan segala doa dan rapat aku peram.

Aku ingin berdansa, merayakan nelangsa, bersama jalinan organ yang tersisa, di atas pembaringan yang tersisa, di ujung nafas yang berbisa, di akhir genang darah yang terasa, di tepian lidah api yang memangsa.

PS.
Jemput aku dalam gelap, karena aku tahu kamu akrab dengannya.
Terima aku dalam lelap, agar aku dapat bangun dalam sisi mu sebagai pelita panduku.
Raih aku dalam dekap, hingga aku dapat akhiri segala api dan menyatu bagai dalam peram.

Re:dekonstruksi

Jika malam belum menyentuh senja, pagi mau jadi apa? Kutelanjangi sekitar, segala terka berlapis nikotin dan tar.

Jika memang semua sebab dapat terulang, toh, segala azab kan kehilangan keriuhannya yang gemilang.

Tidak menarik.

Lalu aku menarik ususku keluar melalui pusar. Sehingga endapan etanol dapat kuambil, di lilitan merah jinggaku.

Jika memang menyesal, bukanlah sesal yang harus diadu pada yang kekal.

Terimakasih tuhan, karenanya sesal menjadi petunjuk ajal. Sehingga tak perlu penasaran, kemana ajal menuntun ke kuburan terdekat.

Tapi tanah sudah menyempit, toh, jadikan saja abu, ukuran panjang penis dan seluruh hasilnya di ragaku.

Hingga mereka terburai, hingga tak sadar seluruh samudra telah berada dalam pelukan.

Hingga akhirnya konsepsi baik benar menjadi banal di pilar-pelir pikiran berbasis iman.

Aku akan berdakwah pada tatanan non hierarki di tempat setelah aku mati nanti. Bersabda tentang bagaimana bodohnya teman-teman satu genus ku, ordo ku, dan segala sesuatu; segala sesuatu yang mirip dengan ku, walau kita hanya berbeda; berbeda bentuk penis dan labia mayora untuk menjadi kita.

Ovum-ovum itu indah.

Embrio pertanda sebuah ledakan besar.

Bumi menjadi selnya, dan kita berpagut menjadi kromosom yang berpendidikan di tata surya.

Karena sejatinya tuhan itu utuh.

Jika memang sekompleks itu, toh, tak tersisa ilmu bagi mereka; penderita disleksia dan tunarungu yang beriman paling bau dan busuk.

Aku ingin pakai susuk.

Maunya. Inginku.

Selebritasi itu fiksi.

Mengagumi imaji dalam sebuah layar fiksi.

Penuh aksi.

Meluluhlantakkan situasi.

Hingga tuhan tak berada lagi di sisi.

Dan pada ujungnya…

Semua tanya menjadi jawab bagi tanya yang lain.

Bukan karena kau bertanya.

Melainkan apa itu tanya, kalau kau tidak menemukan sebab di dalamnya.

Sekarang, hanya ketukan-ketukan piano tak bertuts dan bernada yang mengalun hambar meminta maknanya dijabar dengan lebar dalam dunia maya.

Menemani imaji yang kian berlari, tahu-tahu sudah tak bisa dikejar.

Aku sepertinya lelah.

Aku ingin melupakan semua, namun aku takut akan lupa nikmatnya orgasme.

Aku ingin membereskan semua, namun kelak aku bisa lupa dimana kau taruh tisu itu.

Berantakan.

Diksi diksi diksi diksi fiksi fiksi intuisi.

Pada sebuah bidang bersegi tiga, mata, dan sembilan pada angka, sila kau ambil saja raga ini, biar mereka puas dan tak bertanya pada pagi dini hari.

Karena aku tak ingin menjadi simbol dan nilai.

Akulah delik sebuah matematik.

Menghitung pelik dalam setiap detik.

Hingga titik.

.