Menggugat Pada Tuju yang Bergeliat, Hingga Ujung Lahat.

Siapa yang sudah letih tertawa?

Tertawa seakan menelan beberapa batangan ganja yang terasa seperti tembakau, atau karena kau memang mencium bau gas dari kerak korek api?

Mirip, seperti bau kotoran yang ketika basah dilempar ke mukamu, dan mengering seketika.

Hingga kau menyekanya sampai membuat kukumu kotor.

Hingga nasimu menjadi ladang populan bakteri anus temanmu.

Hingga kau harus memutuskan untuk menahan nafas, atau menahan mabuk dari kotoran temanmu yang mengering.

Sangat, memabukkan.

Aku sudah letih tertawa.
Tuhan pun tidak ikut tertawa.

Tapi Aku ingin baik, Tuhan…

Namun Tuhan menjawab baikku dengan kejamnya; kejamnya baik, bukanlah benar padaku dan buruk itu benar bagi-Nya, lalu apa nya?

Dia adalah adanya, bukan-Nya.

Aku memang tertawa, tapi itu doa baginya. Baginya doa adalah makian, umpatan ketidaktahuan atas-Nya dan mencibir sebelum berkenalan dengan-Nya.

Tuhan, Aku ingin tahu.
Aku ingin tahu ingin apa Aku nanti.

Setelah letih tertawa.

Mungkin, Tuhan yang bakal mendoakanku balik, mencibirku dengan baik, karena dia benar ada-Nya, sehingga menjadi adanya.

Adanya cawan itu hanyalah petunjuk bagiku?

Karena dia adalah buatan-Mu, oh, tuhan betapa kau dengan penuh cita menciptakannya, dan bukan bagiku, melainkan untuk-Nya.

Jika dia menjadi endemik, itulah kutukan-Mu padaku.

Aku sudah letih tertawa.

Tertawa sebagai pangeran buruk rupa yang menjelma sebagai nabi-Mu; dan karenamu, Aku ragu untuk tinggal dalam kerajaan-Mu… Memangsa perlahan dengan mengiris-iris tubuhmu menggunakan sebuah pisau bedah, lalu menggunakannya sebagai pengoles margarin di atas lipatan ususmu yang gurih dan memantulkan tekstur licin yang menggoda indra pengecap.

Akulah endemi bagiku dan kau kutukan bagiku.

Karena-Mu lah Aku menjangkiti tubuhku, dengan harapan, kutukan ini mampu berpaling dari-Nya dan bukan dirinya.

Tuhan, apakah itu Aku?

Singgah Dalam Surai, Bertamu Lalu Memuai.

Aku benci mendengar denting kunci.

Yang tak dirantai satu dengan yang lain, dan terpatri.

Siapa yang mengijinkan tuk mengetuk di dalam benak diriku?

Menekuk punggung dan mematahkan kusen daun pintu… Silahkan duduk, bisa ditunggu?

Siapa ayal sendiri tuk membuai khayal?

Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan.

Nampan-nampan yang kosong, tampan.

Dan kemudian kilah itu menebar celah kesalahan atas allah.

Mengapa konstruksi tuhan kau anggap sebagai bualan?

Seakan baik adalah konsep, dan kebenaran merupakan hasil delik dan timbang perkara dari aksi reaksi terhadap sebuah sikap.

Pesan ilahi kau jadikan sentimen pribadi.

Sungguh lancang kau menjajikan dirimu sendiri surga yang berdiri di atas pondasi dosa yang tak surut bermuara.

Layak seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana.

Menjungkal keragaman hanya dengan asas keimanan. Semata.

Dibutakan oleh pencaharian semata, berujung tak bertata demi mengais harta. Bahkan tahta.

Ingat, imanitas bukan imunitas. Terutama terkait penyakit kebenaran yang ternyata petaka dari sebuah penyakit.

Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening.

Menghitam, makin hitam makin legam.

Legam arang banggalah kau mengerang.

Kepadanya seakan ia mendengar ajakan.

Dibalik legam dahi mendamba restu ilahi, dan lebat janggut diatas rasa kemanusiaan yang kau lupakan dan renggut, dirimu masih seorang manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasianya.

Rahasia semesta hingga ayal.

Aku hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa,

kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping,

persoalanmu, bahkan itu tak mampu,

memberi solusi:

Apakah itu baik?

Aku tak tahu apakah itu intuisi?

Diriku atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu?

Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya.

Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung,

adalah benar dan lain itu mungkar?

Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?

Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan, benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi, semoga, orang yang paling baik yang bakal naik.

Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tahi.

Urai ususku hingga kau terbuai, tebar merah darah yang telah terarah.

Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan.

Lakukan, maka kau lihat dan telan.

Semua asumsi atas intuisi.

Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal.

Tutup kupingmu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.

Namun di dalam ketiadaan detak petak otak yang berdenyut dan memeta semesta.

Jaringan Seksual Satu Arah

Korespondensi atas sebuah perasaan manis hanyalah bualan fiksi pada layar imaji yang semakin tipis.

Ah, aku jadi ingin pipis.

Mengairi mulut dan muka lacur mereka yang berbalut kawat karet hingga berbau cuka dan lengket.

Sekarang, siapa yang mau bertamu kalau mereka tak menyediakan pintu untukku? Semua rumah telah menyatakan tak ada kamar kosong didalam.

Hanya dapur, dapur, dan dapur.

Lahan pengolah intuisi yang terbujur kaku pada nampan siap saji sang koki.

Voila, koki itu nabi.
Tuhan itu aku.
Dan semua manusia telah menjadi tuhan.

Siapa yang sanggup menerima kualitas jika kuantitas terjebak dalam satuan koma; lalu menjadi kitab suci para penikmat yang tak bermata, juga beriman.

Bukan menggubah iri sebagai inti, dan aku mau menjadi bagian dari kalian. Namun visi bukan misi yang kalian tawarkan adalah sebuah komunikasi terjal nan menjijikan. Layaknya lipatan keriput rektum sehabis melakukan penetrasi anal dengan kasar; membayangkannya saja, membuatku jijik dan menjalar hingga seluruh panca indra.

Mari kita berdusta atas dasar kebaikan yang kalian cap.

Semua individu menjadi abu dalam sebuah senapan berbalut kabel dan mengikat seluruh.

Perbudaklah aku dalam menu kalian.

Ini bukan resto, ini adalah apa yang kalian jajakan.

Demi jajaran pewarna wacana, dan pengawet hagemoni yang suci, rusaklah apa yang mau menjadi baik.

Sungguh kasihan jika barisan clitoris dan penis-penis muda disana lebih bisa berorgasme lebih cepat karena kalian.

Berejakulasi dini pada wadah masturbasi komunikasi dalam jangkauan televisi.

Re:dekonstruksi

Jika malam belum menyentuh senja, pagi mau jadi apa? Kutelanjangi sekitar, segala terka berlapis nikotin dan tar.

Jika memang semua sebab dapat terulang, toh, segala azab kan kehilangan keriuhannya yang gemilang.

Tidak menarik.

Lalu aku menarik ususku keluar melalui pusar. Sehingga endapan etanol dapat kuambil, di lilitan merah jinggaku.

Jika memang menyesal, bukanlah sesal yang harus diadu pada yang kekal.

Terimakasih tuhan, karenanya sesal menjadi petunjuk ajal. Sehingga tak perlu penasaran, kemana ajal menuntun ke kuburan terdekat.

Tapi tanah sudah menyempit, toh, jadikan saja abu, ukuran panjang penis dan seluruh hasilnya di ragaku.

Hingga mereka terburai, hingga tak sadar seluruh samudra telah berada dalam pelukan.

Hingga akhirnya konsepsi baik benar menjadi banal di pilar-pelir pikiran berbasis iman.

Aku akan berdakwah pada tatanan non hierarki di tempat setelah aku mati nanti. Bersabda tentang bagaimana bodohnya teman-teman satu genus ku, ordo ku, dan segala sesuatu; segala sesuatu yang mirip dengan ku, walau kita hanya berbeda; berbeda bentuk penis dan labia mayora untuk menjadi kita.

Ovum-ovum itu indah.

Embrio pertanda sebuah ledakan besar.

Bumi menjadi selnya, dan kita berpagut menjadi kromosom yang berpendidikan di tata surya.

Karena sejatinya tuhan itu utuh.

Jika memang sekompleks itu, toh, tak tersisa ilmu bagi mereka; penderita disleksia dan tunarungu yang beriman paling bau dan busuk.

Aku ingin pakai susuk.

Maunya. Inginku.

Selebritasi itu fiksi.

Mengagumi imaji dalam sebuah layar fiksi.

Penuh aksi.

Meluluhlantakkan situasi.

Hingga tuhan tak berada lagi di sisi.

Dan pada ujungnya…

Semua tanya menjadi jawab bagi tanya yang lain.

Bukan karena kau bertanya.

Melainkan apa itu tanya, kalau kau tidak menemukan sebab di dalamnya.

Sekarang, hanya ketukan-ketukan piano tak bertuts dan bernada yang mengalun hambar meminta maknanya dijabar dengan lebar dalam dunia maya.

Menemani imaji yang kian berlari, tahu-tahu sudah tak bisa dikejar.

Aku sepertinya lelah.

Aku ingin melupakan semua, namun aku takut akan lupa nikmatnya orgasme.

Aku ingin membereskan semua, namun kelak aku bisa lupa dimana kau taruh tisu itu.

Berantakan.

Diksi diksi diksi diksi fiksi fiksi intuisi.

Pada sebuah bidang bersegi tiga, mata, dan sembilan pada angka, sila kau ambil saja raga ini, biar mereka puas dan tak bertanya pada pagi dini hari.

Karena aku tak ingin menjadi simbol dan nilai.

Akulah delik sebuah matematik.

Menghitung pelik dalam setiap detik.

Hingga titik.

.

Bermanusiakan Manusia

Sebegitu tidak inginnya perasaaan seorang manusia, hingga ia merasa sangat ingin merasa.

Sebegitu tidak berhasratnya manusia, hingga akhirnya hasrat menguasai setiap rasa yang diinginkannya.

Dan sebegitu kuatnya manusia, hingga ia merasa lemah ketika tidak ada yang lebih kuat darinya.

Sebegitu bahagianya manusia, hingga ia akan merasa luar biasa sedihnya, ketika semua kebahagiaannya tak dipahami orang lain.

Sebegitu percayanya manusia, hingga ia akan merasa ragu ketika semua orang merasa bahwa ialah yang akan menjadi tumpuan beban kalian.

Sebegitu berharganya manusia, hingga ia akan tak bernilai lagi di depan nominal keraguan.

Sebegitu ditemaninya manusia, hingga ia akan merasa kesepian ketika semua orang berada disekitar.

Sebegitu sehatnya manusia, hingga ia akan membutuhkan dokter untuk membuatnya sakit.

Dan sebegitu manusianya manusia, hingga ia akan merasa lebih baik untuk tidak menjadinya.

The Sins VII: Gula

Oh, aku gemar sekali bersenda gurau dengan hasrat pada bakat yang terdapat dalam panganan padat.
Berikanlah, biarkanlah, karena aku tidak perlu berkilah.

Karena aku tak lelah melahap makna yang keliru, bahkan salah.
Maka benarkan aku untuk selalu mengadah.
Mengadah memberi wadah yang tak pernah mengalah.

Sudah.

Aku lupa akan sudah, menyudahi meludahi rekanan hasrat yang tak pernah puas.
Hingga kucampakkan saja puas.

Aku sudah didepan, melahap menuang meramu tak jemu, dalam saluran hasrat penuh godaan.
Hummm, aku berdendang pada pangan yang selalu memuas pandang.

Dalam pandang tentu dilain mata, dilain terka. Bahkan pada sesi akhir aku baru saja memulai. Padahal yang lain sudah bercukup dan menutup, aku baru saja membuka dan kembali meletup.

Bukan goda aku yang bersalah, bukan dada aku berdebar resah, namun aku hanya tidak memiliki jeda untuk dibuat celah.

Kerap beri karena aku takkan sungkan mengambil dan lari.
Menderap mengambil kemudian karena aku adalah mesin pemuas goda yang terampil.

Ya sudahlah, aku tak mengenal sudah bukan?
Ya cukuplah, toh, cukup sudah buat ku tersedan?
Tidak cukuplah satu kuperebutkan dalam sambut ronta yang serta merta.
Tidak sudahlah dua kuizinkan dalam hasrat yang mengerat tepat.

Akulah imbuhan dalam lahap yang tak terlelap. Akulah sisipan akan dahaga yang terjaga. Akulah penghalang santun pada ujung bundar yang tertambun. Namun aku takkan meminta ampun, sekian, biarkan hasrat ini terus mengalun.

The Sins VI: Invidia

Dan aku tidak rela bahwa sejatinya ia menjadi tanpa suatu karena.
Dan aku akan bertanya kepada seluruh jawaban atas dasar wacananya; karena aku tidak akan pernah menerima semua tampilan nyatamu, maupun itu adalah sebuah jalinan naskah drama.

Keenggananku yang tidak akan pernah bosan.
Menggerayangimu, menerjangmu, memakimu santun tanpa ampun.

Karena aku tetap saja tidak akan siap.
Atas apa dan walau apik ia telah tersedia, dengan daya, dan upaya mendasari ia.

Lalu aku tetap akan membungkus luaranmu, dan menghapus fantasiku, dan kemudian memilah pilar pengakuanku, dan menggugat karenamu.

Akulah santapan skeptikal, yang menerkam, menelanmu dengan fatal.

Namun dengan tambahan sajian moral.
Yang menggurat kata banal, menggoreskan ragu yang kental, membatasi diri dengan tebal, dan menghancurkan segala yang ia pakai dan kenal.

Dan luluh lantak melantai memburai dengan tangan terkepal.

Kubiarkan ia berbalas monolog dengan tanganku yang posisinya telah kuhafal.
Rasakan kau karena aku tidak akan percaya,
mampuslah kau karena mereka akan segera terbawa.

Musnahlah atas apa yang kau citakan, dan nantinya juga akan jadi bahan tawa.
Meranalah kau karena aku akan ada sebagai persentasi sekundermu segera, dan seraya.

Akulah hidangan bantah, yang setia menolak dan mengingkarimu tanpa celah; namun dengan nilai mengadah.

Mengumbar simpul sumpah.
Menggelar seluruh serapah.
Menjauhi diri di berbagai arah.
Menjegal segalanya yang ia tuju dan sudah.
Dan mengurai, menyebar ludah.

Kupasrahkan ia mengemas waktu sendiri dengan segala taut untuk berhias dan bertata indah.

Namun,

Kubiarkan ia berhias diri dengan segala atribut namun tetap ku nilai sampah.

Hempas kau tiada dengan segala serapah.

Sudah.