Doa Tengah Tahun

Katanya kita harus ikhlas.

…Lalu sabar; harus sabar walau lelah mengejar, dan juga dikejar.

Karena kita berada di antara tebing terjal nan gersang, menunggu pelita memulai cerita di pagi buta.

Jangan sampai kita berada dalam sudut mati tertajam dan tergelap saat gulita ada; yang mau tak mau membuat kita geram hingga terpejam.

Berjalanlah tenang dalam jalur yang dapat kau kenang.

Di sana, ada ujung yang memberi dan menyambung.
Di sana, ada yang menunggu dan lebih membutuhkan.
Di sana, ada yang mengadah, dan tak harap tuk selesai begitu saja.

Hingga nanti kau tiba di titik iba yang berada.

Di sini, ada yang berlebihan tuk memberi, namun tak selalu meminta tuk memberitahu dirinya agar kembali.
Di sini, ada yang kekurangan tuk disadari, namun selalu, dan pasti merasa berkecukupan tuk memberitahu dirinya agar tak usah lagi membeli.

Di sini.

Advertisements

Wiracarita Nikotinia

Aku adalah puntung rokok yang berbekas buntung.
Bermandikan abu atas nyawaku dan nikotin pada jiwaku.
Terselubung pita emas dan lantunan kenikmatan penuh sarkas.

Aku adalah kematian yang terasa sangat indah dalam laju titian.

Hari ini aku berada didalam sebuah asbak melamin yang terkotori dan tersiangi nikotin; menguning – menyaring seluruh adabku, dan menggumpalkan seluruh manifestasi tujuanku di dunia.

Aku adalah puntung rokok yang bermandikan ketiadaan. Ketiadaan atas guna, dan kehadiran atas fungsi lain; untuk dimatikan… Dimatikan saja, seakan hanyalah itu maknaku berada sebelum menjadi puntung yang beruntung masih panjang dan agung.

Aku hadir untuk matimu, dan aku mati untuk hadirku selanjutnya.

Aku adalah puntung rokok yang bersetubuhkan deposit. Jangka bunga panjang atas ke-adiksianmu – atas keinginan nalurimu; digerakkan, didorong, dan dijiwai sepenuhnya dalam seluruh tarikan nafasmu. Karena ketika aku hidup, adalah ketika waktu berjalan mundur menghabisiku, mengumpaniku dengan batas dan tanpa kenal balas… Matilah sudah, aku ingin mati secepatnya.

Ditekuk, dan diacuhkan atas kegunaanku untuk dimatikan, aku berseloroh tentang sebuah ciptaan yang mengagumkan; menutur keterikatanku, kesungguhanku, mengobatimu dengan sebuah bala. Menghakimimu dengan segala upaya; diluar batas moral, disemua tingkat nalar, akulah penggerak hidupmu. Hitung aku atas kuantitasku yang telah mengurai seribu tahun lagi.

Aku berada di dalam tingkatan terendah seluruh makna ketiadaan yang kau sanggah. Mungkin bagimu, jiwa ini hanyalah sebuah media balas dendam atas perilaku yang kau idam-idamkan.

Mungkin kau banggakan; mungkin kau silahkan saja dihidupkan.

Aku berdenyut pada detak jantungmu, aku pelumas pada segenap aliran selmu, aku jalan tol di koloni impuls syaraf mu, aku logika tambahan atas pilihan-pilihan asumsimu yang tak bisa disimpulkan dengan tataran pembacaan makna.

Akulah wacana yang paling nyata atas bencana. Sudah berulang kali kubahas, tapi akulah simbol kematian yang sudah mati; dan ketika ku hidup, aku berkampanye pasif atas bentuk pencabutan nyawa yang paling permisif, paling reaktif, dan tentunya adiktif.

Akulah yang tidak bisa kau tolak untuk kembali dihadirkan, kembali dihidupkan; seolah-olah, aku adalah pangan abadi yang membuatmu terkelu-kelu sejadi-jadinya. Seolah-olah, aku adalah mumi siap balsem, dan jenglot siap ciut.

Akulah kematian, akulah keindahan, dan akulah malapetaka pada seluruh jika dan seandainya kala telah datang, akulah yang tidak ada disisnya namun kau.

Aku bentuk tindak tanduk tanggung jawab yang kau anut dan sembah. Aku yang menjawabnya, namun kau yang menanggungnya. Akulah bentuk substitusi anarki pada ketidakberdayaan demografismu, yang mengindahkan seluruh teori jual-beli. Akulah komoditi kematian yang akan selalu hidup – hidup diatas tembang dan lantun orbituari di muka nisan kalian. Dan aku merangkak, menyeruak dengan paksa di tumpukan jasad busuk menghitam legam kalian.

Maka jangan salahkan aku atas kebersalahan, namun puji puja aku atas segala keberhasilan. Menjadikan makna kematian sebagai suatu kata yang tegas sejati menggambarkannya. Karena kalian adalah aku, si puntung rokok yang beruntung telah lebih dulu mati dibandingkan kalian para jasad organisme hidup yang bertahan hidup dengan menghirup kematian.

Dengan meracuni kematian, dan mencurangi keabadian.

Tapi tanpaku, kalian akan terus hidup dan lupa akan akhir sujud. Mengidahkan segala bentuk dan wujud, menggurat dusta atas semua yang kalian anut, dan mengurut daftar nabi-nabi yang telah siap diganti karena usia yang lanjut.

Aku puntung rokok berbekas balas atas nafas.
Mengaliri lirih dengan perih.
Namun tak terdengar, namun tak tersiar.
Aku puntung rokok berbalut kesejatian atas kematian.

Kematian kalian yang layak kunikmati pada lantun batang selanjutnya, dan sekian.

Semesta Melata Tak Tertata

Semesta menyajikan segala tanya tanpa jawab yang tak dapat kuterka.
Walau sebagian, maupun penuh, tetap saja tidak ada petunjuk yang dapat mengarahkan kemana aku harus merujuk dan bahkan tunduk.

Karena semesta lebih besar atas sebuah pandang mata, dan barisan tutur kata.

Semesta dengan sengajanya membesar; mungkin dikarenakan kita yang mengecil dan semakin tersasar.
Terbutakan oleh materi, dan tertahan laju beragam komoditi sehingga sulit tuk berlari.

Semesta adalah wadah luar biasa megah atas kehidupan kalian yang tanpa arah.

Semesta adalah akhir tujuan, dan awal pilihan.
Tebang pilih atas naluri-naluri yang tersisihkan.

Aku berada dipinggiran semesta dengan tangan menunjuk ke tengahnya sembari tertunduk.
Menghakimi diri atas fungsiku yang diungsi entah kemana ku harus kutangisi.

Namun tetap saja, tak ada jawab atas arahku, juga arah kalian.
Karena jawab kalian adalah relatif di segala suatu yang nyata di semesta; mengecoh indramu, dan memperdayaimu.

Karena mata yang berbicara, dan telinga yang mendengar segala rasa di hati kalian, hingga kemudian berlarian.

Tuhan saja bimbang, tuhan saja gamang.

Karena tuhan adalah perwujudan kalian, dan semesta adalah siapa saja yang dapat menang dan berada dinyana.

Dan kemudian semesta akan menjemputku kembali, menjadikanku bagiannya yang berkelana tanpa nyali.

Karena aku takut, takut atas keberanianku hidup.
Bunuh saja selagi aku belum bernafas.
Cabut saja kembalikan diriku selagi hubungan interkoneksi atas kedua belah kelamin yang berbeda jenis mulai beraksi.

Padamkan niatnya.

Karena aku tak sanggup hidup atas segala pengetahuanmu, oh semesta yang bersinggungan di dalamku, diluarku, dan denganku.

Pancung dan jangan lupa acungkan tangan ketika hendak bertanya.
Sambung dan selalu ingat tuk terus mengisi lambung dengan seluruh informasi yang akan kau cerna, dan kau resapi segala maknanya.

Ketidaktahuan kalian yang tidak mengtahui adalah sebuah anugerah.
Dan pengetahuan adalah manifestasi atas segala hal terkutuk dan begitu terarah.

Nyata, aku hanya ingin lupa, semesta.

Sangka, Kala.

Kala adalah lantun prasangka yang menutup segala praduga.
Kala adalah laju semesta yang menutup mata dan terjaga.

Kala mendengar dan menggelar – segala kemungkinan yang berkelakar; mengakar, mengidahkan tataran jalar, baik menjalar dan mengusik menggelegar, terus dikejar, namun tetap tertinggal dan tak pernah tersadar.

Sadarkah segala baik dari kalian telah tertutup mesra dengan kepentingan yang jauh lebih menarik?

Menarik semua aspek sebab akibat, dan menjabarkan proses sebuah sistem yang terbelit, tersimpul mati, dan membusuk akibatnya.

Akibat kalian yang berprasangka, menyangka segala terka.
Yang tak pernah kalian duga.

Karena Kala tahu, segala prasangka adalah mendung yang tak terlihat namun terkandung.

Ia tahu prasangka adalah petir tanpa suara namun tetap menyentak lara.

Menyambut duka, tapi tak perlu membuai luka.

Karena segala prasangka adalah sebuah pagar yang melindungi apa yang tak terlihat namun terdengar.

Prasangka adalah taktik mengumpat tanpa emosi, namun tetap menikam empati.

Memberi sajak penuh getir yang tak bersyair.

Lalu segala akar yang mengingkar atas apa yang telah tumbuh dan menjalar, akan terus bersandar pada seluruh wacanamu yang tak akan pernah kelar; terus tertanam, dan terjangkar, lalu membusuk diurai maut dalam sangkar.

Dan Kala tahu kapan kau akan mengurai, segala yang kau tuai, dan pasti kan usai.

Lidah Lidah Belati, Siapa Yang Makan Hati?

Segerombolan pembawa bencana berlarian membawa sabit yang terjepit.
Mereka menebas-nebas gerombolan lain yang berpanjikan wacana berbeda aliran dan membawa celurit.

Lalu mereka saling menuang, menyuling darah di setiap tebasan yang mengarah.
Hingga menjadi membusuk bernanah karena ditinggal tak berguna sudah.

Kasihan yang mati tak memakai usaha padahal membawa senjata serta.
Terpujilah yang menebas dengan usaha karena mereka lebih tajam memaknai derita.

Disaat semua kata telah menyadur derita, disaat senjata telah bersangkur tumpul dan butuh tutur sampul…

Ayo, mari kita mati sajalah dalam sebuah ladang kebaikan yang sejati, daripada membelenggu hidup pada kelayakan yang patut mati.

Derit Benci Yang Tidak Irit

Dan kulihat kalian menggeser makna baik, dan membuatku tertarik – karena apa yang menjadikan kalian layaknya seonggok tahik.

Dalam konteks baik yang kalian lihat, hanyalah sebuah bongkah omong kosong penuh intrik yang menggelitik, dan tak pernah membuatku melirik.

Silakan tuduh aku sirik, namun ku tetap mengumpat dengan jujur dan berisik.
Silakan sidang aku yang tak pantas diundang, namun ku tetap menghadang dengan lantang nan tenang.

Kalian mendefinisikan yang bukan kalian; kalian yang menghakimi diluar persidangan atas kalian – dan diluar kalian.
Kalian memerdekakan diri kalian sendiri atas umpan pekikan, dan perkataan yang memenjerakan yang lain selain kalian.

Dan aku akan menertawakan segala hal yang kalian lebih-lebihkan. Atas manifestasi rasa kemanusiaan kalian dan atas nama komunitas yang tak pantas. Kalianlah sebuah fondasi yang telah basi namun tetap dianggap sebagai asupan pangan yang penuh angan; dan segala hal telah menjadi gurat keriput lubang di lubang anal.

Dan kemudian mulut kalian mengerucut; menunjuk-nunjuk yang lain seolah kalian yang menuntut kebenaran yang patut.
Namun dengan pintarnya, bodohnya kalian menjadikan yang lain menjadi sedemikian lebih pintar dari kalian.

Mengertikah kalian?

Kalian yang tidak sederhana. Kalian yang bersenjatakan bencana berbalut wacana.
Sudahlah, ayo bercanda saja tak perlu sebegitu seriusnya bertanya dan malah tak berguna.

Kasihannya, diluar sana masih banyak yang seperti kalian. Yang menjual nilai dan mengobral norma utopis; menyelenggarakan baazar atas konsep kebanggaan yang semu, dan tetap saja, kalian berkoar-koar tak tahu malu nan tak jemu-jemu.

Sudahlah, kiamat kan datang dan yang pertama kali hancur adalah struktur vertikal yang terpimpin dan yang terlacur. Karena apa yang diperjuangkan oleh kalian adalah perjuangan yang hanya angan. Perjuangan atas suatu yang tak nyata dan tak terihat mata. Sungguh disayangkan, kalianlah yang harusnya memperjuangkan kalian sendiri yang tak bisa berdiri sendiri. Mencari teman layaknya penis yang kehilangan biji – berereksi namun tak mampu membuahi.

Berkostum revolusi, berjiwa masturbasi.

Aku butuh nilai yang nyata.

Aku butuh wacana atas nilai kemanusiaan yang nyata, dan penuh belas kasihan; dan intinya aku tidak butuh kalian.
Aku butuh bentuk interaksi yang nyata, dan berasas atas aksi reaksi yang alami dan sempurna disegala sisi; bukan sebuah manifestasi atas wacana yang lapuk dan mengutuk semua diluar kalian sebagai individu yang kurang pantas dikasihi.

Kalianlah bentuk intervensi yang paling menjijikan.

Menjijikan karena sungguh tidak bergunanya apa yang kalian bawa, dan sungguh tidak ada esensinya atas apa yang kalian gaungkan, dendangkan, dan teriakkan dengan lantang.

Kalian adalah kelompok yang kusesalkan, kelompok yang kusayangkan tidak lagi kusayang.
Karena kalian menjual cinta tulus dengan kepentingan yang menusuk terhunus hingga ujung anus.
Karena kalian terlalu mengobral, sibuk berkomoditas, dan akhirnya terhempas.

Sampai jumpa di ujung neraka yang terkelam, atau di jurang surga yang paling benderang – sampai dibutakan kalian oleh cahayanya dan menjadi malam selamanya.

MLM: Multi Layer Metropolitan

Jaringan tata kota merupakan jaringan penuh kolesterol jenuh dan pekik seru ‘kontol’ pada satuan meter benci yang paling ampuh. Metropolitan adalah simbol terkini dari sikap kesetanan dan segala kendali liar tak beralasan.

Di segala hujan dan ketika tertutup awan, metropolitan adalah miniatur kecil arena tarung yang tidak bernurani; ia beremulsi atas ambisi, dan mengasimilasi masing-masing ego individu di dalamnya; menjadi ruang atas bibit benih segala bentuk pemberontakan muda yang tak kenal reda.

Dan di semua cita-cita yang dianut oleh sang kota tercinta, hamparan harap tersebut hanyalah pengalihan terburuk atas realita; dan kita, sebagai mata didalamnya, merasa kurang cukup dibutakan oleh polutan kendaraan tanpa perasaan yang dikendarai oleh budak sistem kejar setoran – yang menghilangkan semua kemungkinan moral atas pengguna jalan lain yang merasa dipinggirkan.

Lalu, seperti bentuk kota lainnya; dengan slogan mimpi yang penuh semangat dan diucapkan dengan berapi-api, metropolitan kini hanyalah teras atas sebuah rumah besar penuh jiwa-jiwa yang mengeras. Ia ditopang oleh pilar-pilar terdiri dari tumpukan manusia yang dikategorikan dalam golongan menengah ke bawah menurut orang-orang yang menggolongkan diri sebagai orang-orang dalam golongan menengah ke atas.

Metropolitan adalah sebuah segitiga ekosistem, dengan pria-pria tambun berjas sebagai predator yang jelas memangsa dengan buas dan penuh kenikmatan tanpa memikirkan karma yang terbalas atas perbuataannya yang naas. Sedangkan mereka yang datang tanpa jaminan, adalah kelinci-kelinci yang tak bertungkai kaki, tak bisa lari, apalagi sekedar menyenangkan kelinci lainnya dengan menari; mereka mudah dimangsa, dan bahkan memangsa sesama, hingga menjual harga nyawa demi sebuah sarana penyambung nadi.

Metropolitan adalah sebuah pelarian atas jiwa-jiwa yang haus akan makna ketuhanan. Mereka menciptakan peraturan agar terus menjadi tuhan bagi sesama. Mereka tidak ingin tersentuh, tidak ingin terlihat; namun karya ciptanya, mencipta kutuk bagi yang lain; meminta bentuk yang pasti atas pemujaan-pemujaan terselubungnya.

Tak dinyana, metropolitan adalah sebuah sarana simulasi bencana di neraka; sebuah wahana yang tidak akan pernah disadari oleh tuhan sekalipun.

Lalu metropolitan menjadi contoh bagi calon-calon metro lainnya. Inilah yang dinamakan MLM kemudian, multi layer metropolitan; menciptakan neraka tanpa usaha, dengan sistem passive income, mendatangkan derita dengan membuang-buang pahala.

Dan terakhir, metropolitan tidak mengenal belas kasihan. Metropolitan tidak mengenal kalian juga tentunya. Ia ingin dikenal tanpa harus mengenal kalian. Jika kalian berusaha tuk dikenal, kalian akan disodomi dengan simbol tugu yang terkenal.

Dalam metropolitan, terdapat umpatan.
Dalam metropolitan, terdapat pujian.
Dalam metropolitan, terdapat sebuah pesan: “Salah sendiri.”