Menghunus Runcing Diskursus

Sepasang anak bermain dengan tombak dan batang kayu yang diruncingkan

Menusuk, mencabik, dan bergulat memperebutkan tujuan didik yang riskan
Mengaji, mengkaji, aliran darah yang memupuk benih pada tumpuan tungkai hingga akan- melaluinya dengan menjarah susunan epidermis bercorak pucat pasi berlantun hafalan;

Tanpa tujuan.

Lalu diujung permainan akan muncul memburai organ

Dari kedua anak yang menyerang dengan kejam dan tanpa segan
Dan di ujung nafasnya, hanya menjadikan mereka sebuah bilangan dalam bagan
Diukur dan ditabulasi dalam satuan statistik menyerupai kelenjar dalam badan

Tanpa tujuan.

Lalu ayah hanya mencabuk, mencaci, dan enggan meraih

Melerai dan mengobati luka kedua anak yang senantiasa menyanyikan lirik perih
Namun meninggalkan dan menanggalkan tanggung jawab dan hanya berbaring membaca tasbih
Mendoakan tujuan tanpa hasil yang tidak akan pernah terbaca dengan fasih

Bersajak lirih.

Tak lupa para guru dan satuan kelompok birokrasi yang haus akan suapan nasi
Maupun layanan lainnya seolah janin prematur yang mengais, mengadah tetes nutrisi;
Sehingga berujung kepada tatanan norma berbalut gagasan ilmu yang tidak bernarasi
Mengorbankan semua insan pubertas tanpa balas atas visi, maupun misi yang penuh presisi

Hingga pucat pasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s