Woodstock: Bagian I dari II

Tali pusarku bercabang sampai ke lengan dan tengkuk; terhubung oleh goresan tulisan tinta hasil tarian lengan sebagai registrasi janin rahim duniaku.

Aku tak pernah berharap untuk terlahir. Saat terlahir pun, mencoba untuk berharap itu sesulit kalian melepaskan diri dari semua jeratan tali pusar yang menjulur liar – menganga merekah – menanggalkan jejak darah kering dari rahim ibu.

Kalian tidak menyebutku si manusia pusar. Malahan, akulah spesimen dari susunan berlapis dan berbau pernis. Karena itu kuberpikir keras mengapa aku tak mempunyai sesuatu yang hakiki dan beresensi yang disebabkan – dan berakibat aku disini?

Kalau tuhan mampu mencipta jiwa, maka aku terbuat dari apa?

Senyawa semata kah dari seorang yang dibutakan pandangnya hingga memberi nyawa pada apa yang dilihat pertama kali olehnya?

Arsitektur anatomiku sangatlah menjijikan. Aku dipenuhi ulir yang mengular tapi tak licin menjalar. Menyebabkanku sulit mengendap, apalagi menyadap jika ingin licik hati ini berucap.

Muara pelik pun adalah karunia bagiku, dan praduga berbulir emosi tak bersisi telah terakuisisi untukku.

Sampai semuanya kuukir dalam perutku.

Dan memang harus kuukir.

Ini telingaku, kubotaki seperti kepalaku.
Ini rambutku, kupelintir dan kuukir seperti hidungku.
Ini hidungku, kuanyam layaknya jalinan nadiku; dialiri lagumu, biramamu, dan semua empatimu.
Ini salahmu atas benarnya diriku.

Sebuah beban yang tertuang di tengkukmu menyeruak dari sela semua ruas tulang belakangmu. Dari sela seluruh sisip jaringan kelenjarmu. Dan dari semua lipat kulitmu yang berkeringat.

Semua pahat, palu, dan alat pengulirmu adalah penyambung semua bulir peluhmu yang mengaduh pada siapa kau meminta dan menawar.

Akulah barang dagangmu, jauh dari barang hasil hasta karya tuhan. Bahkan hidupku pun diperkosa oleh makna hidup bagi yang telah hidup sebelum aku sendiri.

Sampai tak ada lagi alunan birama untukku.
Jalinan ketukan hak sepatumu mengiringi detak nafasku.
Dan tarian jemarimu menuntun pola hidupku.

Sekarang semua adalah anugerah yang tercetak layaknya tato di dahi yang buruk rupa.
Menyakitkan, memalukan, dan bertahan sampai piringan besi selesai dipanaskan.

Lalu semua kenisbian yang sia-sia ini… Hei, apa itu arti nisbi?

Yasudahlah, toh, aku tak pernah berfikir untuk menyekolahkan diri.

Semakin aku tahu, semakin aku tidak tahu siapa aku.

Hingga ia membelikanku sebuah peta ilmu, nalarku pun melaju seiring ditujunya mata arah pengetahuan.

Beginilah seharusnya aransemen nafas kehidupan. Susunan notasi dari detak gerak jiwa yang beritma. Dan rangkaian ide beralas silikon yang berbentuk menjadi idealnya sebuah makna konteks penciptaan.

Aku ini karya, aku ini cipta, aku ini berkarya karena adanya cipta dari pencipta yang dicipta.

Hei, kamu si pemberi jiwa dari nyawamu.

Biarkan saya melaju keluar rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s