Kepada Para Penyintas Moralitas

Ayo kita ke sawah, dimana semua petani sedang memanen sabit berbalut benci.
Ayo kita ke pabrik, dimana semua buruh sedang menyusun palu berkepala geram.

Tuhan, menurut mereka adalah suatu rasio nominal, dan media substitusi yang berdiferensial seperti nanah yang tertahan dibalik jaringan kulitmu.

Jangan sampai terlepas, karenanya bakal bau.

Tengik dan sirik selalu berdampingan dalam pelaminan yang berhiaskan usus unggas dan ternak.
Jika semua tak lagi mempunyai engsel di leher untuk melihat apa yang ada dibawah, apa yang mereka injak, apa yang mereka tapaki, apa yang mereka pijak dan ajak, apa bedanya mereka dari barisan unggas dan ternak yang hanya mengikuti jejak tuk beranak-pinak?

Karenanya mereka, para konsumen terbaik dari kaum pasar yang berlantai paling tinggi, hanya melihat pola ubin dan lapisan demi lapisan dibawahnya.

Dimana dasar dapat ditemui? Mereka dengan nyamannya menutupi diri dengan kanopi obligasi dan sebuah terpal investasi yang takkan pernah lolos amdal.

Bariskan mereka dalam sebuah eskalator, lift, dan tangga berundak. Mereka adalah manusia keji tak berpundak dan menyanggah diafragma mereka dengan sebuah garpu makan yang dijahit oleh alang-alang berhama dan memicu rasa gatal hingga tenggorokan.

Dibungkus dengan tenun yang direndam dalam kopi dan dihias oleh sulur-sulur berbuah tomat.
Hingga sampai pada suatu titik dimana ia menjadi seorang individu yang tak pernah mengadu.

Karena bagi mereka, otaknya adalah nilai satuan saham, dan jalinan darah adalah minyak mentah bernilai jutaan yang menentukan arah. Dan bahkan menjadi sebuah pengganti sapi perah yang marah karena susunya tak lagi diperah. Dan sekarang hanya melenguh, “ah, ah, ah,ah” seolah terlibat disetubuhi oleh-nya.

Kasihan, karenanya ia tidak mampu berkarya, serasa menjadi sebuah mahakarya, namun tak dapat menuai rasa percaya untuk mengurasinya.

Kasihan, karena semua peluh, dan semua lelah hanya ada melukiskan muka para pahlawan. Dan bukan menjadi pahlawan.

Kasihan, karena ia mengganti makna pangan menjadi sebuah cita-cita angan. Dan yang nyata baginya adalah sebuah visi dari dalam mata yang terjahit di usus besarnya; melihat proses cerna kotoran dan lendir yang tak dikenal melaluinya.

Karena itulah sebuah penghukuman, dan sebuah pengadilan yang tak adil baginya, ada bukan karena apa yang dapat ia di bagikan. Padahal, ia sendiri tidak pernah berbagi; makanya, angka 9 itu dapat dibagi 3 menjadi 3. Dan sampai sekarang ia tidak tahu apa itu angka yang ketiga setelah dibagi karenanya!!

Tertawalah aku karena yang ia tahu hanya nol. Sebuah anulir atas kuantitas yang sekedar mampir.

Nihilis adalah kata yang tersablon di depan kausnya, dan realis adalah sebuah tato dalam tubuhnya.

Sampai mereka mencabut semua helai alisnya. Menyambungnya, menutup dengan mulutnya yang selalu berliur. Memakan kertas berwarna hijau, dan menjadi perwujudan kambing bertanduk dan berjanggut. Sampai nyawanya direnggut.

Ini adalah susunan prosa atas ketidaktahuan kami.
Atas ketidak pedulian kami.
Atas ketidakmauan kami.
Atas keegoisan kami, yang sampai sekarang tidak mau memberi dan hanya menunggu untuk dibagi.

Atas nama seluruh petani sabit dan pengerajin palu,
saya ucapkan selamat berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s