Segala yang Mati di Lintasan, Tanpa Banyak Alasan.

Aku tak pernah berteman dengan waktu.
Karena seluruh detik mengutukku dengan segala delik.
Bahkan, semua tahu aku hanya punya sebuah mesin tik.
Yang mengusik, mengetik susunan menit dalam satuan jam-mu.

Apa itu detak, kalau semua berpacu dalam petak?
Seolah memetakan resolusiku tanpa melihat topografi keberhasilanku?
Maka buatlah jantungku dapat bernafas, dan paru-paruku kebanjiran darah.
Maka jadikanlah tanganku berdansa dengan kedua kakiku yang terkulai terkilir.

Semua bukan terserah padaku.
Karena tidak ada acara serah terima dalam lintasan.
Lintas semu yang memacu kencang para pengadu ilmu.
Kepada mereka yang terbuai, tersedak dengan bubur kertas penuh makna dari sang mempelai.

Aku tidak meminta perpanjangan lenganmu.
Aku tidak meminta sandaran punggungmu.
Aku tidak memulai akhir dari sebuah nafas panjang.
Aku tidak mengakhiri awal dari sebuah momentum gerakan yang pendek.

Aku ada untuk bermasturbasi dengan setiap detik.
Kamu ada untuk membelikan menit sebuah kondom.
Mereka ada untuk membuahi putaran jam dengan penuh birahi.
Dan semua orang akan ada untuk mengutuk waktu dengan aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s