Wiracarita Nikotinia

Aku adalah puntung rokok yang berbekas buntung.
Bermandikan abu atas nyawaku dan nikotin pada jiwaku.
Terselubung pita emas dan lantunan kenikmatan penuh sarkas.

Aku adalah kematian yang terasa sangat indah dalam laju titian.

Hari ini aku berada didalam sebuah asbak melamin yang terkotori dan tersiangi nikotin; menguning – menyaring seluruh adabku, dan menggumpalkan seluruh manifestasi tujuanku di dunia.

Aku adalah puntung rokok yang bermandikan ketiadaan. Ketiadaan atas guna, dan kehadiran atas fungsi lain; untuk dimatikan… Dimatikan saja, seakan hanyalah itu maknaku berada sebelum menjadi puntung yang beruntung masih panjang dan agung.

Aku hadir untuk matimu, dan aku mati untuk hadirku selanjutnya.

Aku adalah puntung rokok yang bersetubuhkan deposit. Jangka bunga panjang atas ke-adiksianmu – atas keinginan nalurimu; digerakkan, didorong, dan dijiwai sepenuhnya dalam seluruh tarikan nafasmu. Karena ketika aku hidup, adalah ketika waktu berjalan mundur menghabisiku, mengumpaniku dengan batas dan tanpa kenal balas… Matilah sudah, aku ingin mati secepatnya.

Ditekuk, dan diacuhkan atas kegunaanku untuk dimatikan, aku berseloroh tentang sebuah ciptaan yang mengagumkan; menutur keterikatanku, kesungguhanku, mengobatimu dengan sebuah bala. Menghakimimu dengan segala upaya; diluar batas moral, disemua tingkat nalar, akulah penggerak hidupmu. Hitung aku atas kuantitasku yang telah mengurai seribu tahun lagi.

Aku berada di dalam tingkatan terendah seluruh makna ketiadaan yang kau sanggah. Mungkin bagimu, jiwa ini hanyalah sebuah media balas dendam atas perilaku yang kau idam-idamkan.

Mungkin kau banggakan; mungkin kau silahkan saja dihidupkan.

Aku berdenyut pada detak jantungmu, aku pelumas pada segenap aliran selmu, aku jalan tol di koloni impuls syaraf mu, aku logika tambahan atas pilihan-pilihan asumsimu yang tak bisa disimpulkan dengan tataran pembacaan makna.

Akulah wacana yang paling nyata atas bencana. Sudah berulang kali kubahas, tapi akulah simbol kematian yang sudah mati; dan ketika ku hidup, aku berkampanye pasif atas bentuk pencabutan nyawa yang paling permisif, paling reaktif, dan tentunya adiktif.

Akulah yang tidak bisa kau tolak untuk kembali dihadirkan, kembali dihidupkan; seolah-olah, aku adalah pangan abadi yang membuatmu terkelu-kelu sejadi-jadinya. Seolah-olah, aku adalah mumi siap balsem, dan jenglot siap ciut.

Akulah kematian, akulah keindahan, dan akulah malapetaka pada seluruh jika dan seandainya kala telah datang, akulah yang tidak ada disisnya namun kau.

Aku bentuk tindak tanduk tanggung jawab yang kau anut dan sembah. Aku yang menjawabnya, namun kau yang menanggungnya. Akulah bentuk substitusi anarki pada ketidakberdayaan demografismu, yang mengindahkan seluruh teori jual-beli. Akulah komoditi kematian yang akan selalu hidup – hidup diatas tembang dan lantun orbituari di muka nisan kalian. Dan aku merangkak, menyeruak dengan paksa di tumpukan jasad busuk menghitam legam kalian.

Maka jangan salahkan aku atas kebersalahan, namun puji puja aku atas segala keberhasilan. Menjadikan makna kematian sebagai suatu kata yang tegas sejati menggambarkannya. Karena kalian adalah aku, si puntung rokok yang beruntung telah lebih dulu mati dibandingkan kalian para jasad organisme hidup yang bertahan hidup dengan menghirup kematian.

Dengan meracuni kematian, dan mencurangi keabadian.

Tapi tanpaku, kalian akan terus hidup dan lupa akan akhir sujud. Mengidahkan segala bentuk dan wujud, menggurat dusta atas semua yang kalian anut, dan mengurut daftar nabi-nabi yang telah siap diganti karena usia yang lanjut.

Aku puntung rokok berbekas balas atas nafas.
Mengaliri lirih dengan perih.
Namun tak terdengar, namun tak tersiar.
Aku puntung rokok berbalut kesejatian atas kematian.

Kematian kalian yang layak kunikmati pada lantun batang selanjutnya, dan sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s