Sangka, Kala.

Kala adalah lantun prasangka yang menutup segala praduga.
Kala adalah laju semesta yang menutup mata dan terjaga.

Kala mendengar dan menggelar – segala kemungkinan yang berkelakar; mengakar, mengidahkan tataran jalar, baik menjalar dan mengusik menggelegar, terus dikejar, namun tetap tertinggal dan tak pernah tersadar.

Sadarkah segala baik dari kalian telah tertutup mesra dengan kepentingan yang jauh lebih menarik?

Menarik semua aspek sebab akibat, dan menjabarkan proses sebuah sistem yang terbelit, tersimpul mati, dan membusuk akibatnya.

Akibat kalian yang berprasangka, menyangka segala terka.
Yang tak pernah kalian duga.

Karena Kala tahu, segala prasangka adalah mendung yang tak terlihat namun terkandung.

Ia tahu prasangka adalah petir tanpa suara namun tetap menyentak lara.

Menyambut duka, tapi tak perlu membuai luka.

Karena segala prasangka adalah sebuah pagar yang melindungi apa yang tak terlihat namun terdengar.

Prasangka adalah taktik mengumpat tanpa emosi, namun tetap menikam empati.

Memberi sajak penuh getir yang tak bersyair.

Lalu segala akar yang mengingkar atas apa yang telah tumbuh dan menjalar, akan terus bersandar pada seluruh wacanamu yang tak akan pernah kelar; terus tertanam, dan terjangkar, lalu membusuk diurai maut dalam sangkar.

Dan Kala tahu kapan kau akan mengurai, segala yang kau tuai, dan pasti kan usai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s