Lidah Lidah Belati, Siapa Yang Makan Hati?

Segerombolan pembawa bencana berlarian membawa sabit yang terjepit.
Mereka menebas-nebas gerombolan lain yang berpanjikan wacana berbeda aliran dan membawa celurit.

Lalu mereka saling menuang, menyuling darah di setiap tebasan yang mengarah.
Hingga menjadi membusuk bernanah karena ditinggal tak berguna sudah.

Kasihan yang mati tak memakai usaha padahal membawa senjata serta.
Terpujilah yang menebas dengan usaha karena mereka lebih tajam memaknai derita.

Disaat semua kata telah menyadur derita, disaat senjata telah bersangkur tumpul dan butuh tutur sampul…

Ayo, mari kita mati sajalah dalam sebuah ladang kebaikan yang sejati, daripada membelenggu hidup pada kelayakan yang patut mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s