Untuk Segala Peluh di Gemuruh Kota yang Meluruh

Ayo kawan, lekas menjadi satuan komoditas yang tak bisa melawan.

Yang menagih peluh keringat yang tak sepadan, dan gigih membawa jatuh nominal penuh hutang.

Dan dimana matahari sedang bertamu di teras, mereka telah bergulat mengulat dalam aspal yang keras.
Dan disaat matahari akan mengucap salam pulang, mereka masih merintih meringis terpecut dalam sarang.

Ayo teman, lekas menjadi piranti industri yang tak pernah mati.

Yang bekerja dengan bahan bakar kalori, dan meringis – mengikis membuang naluri.

Dan dimana raga masih menggeliat melambat, mereka telah giat bercengkrama dengan satuan materi padat.
Dan disaat raga telah menghela dan bernafas lega, mereka masih mencela dan mengira semua masih berjalan dengan tega.

Ayo sobat, lekas menjadi sumber daya manusia yang tak berdaya.

Yang menguras mimpi dan seluruh ambisi menjadi opera dengan jalur cerita yang basi. Tanpa simpati.

Dan dimana kakek sedang berjuang untuk bergegas dari tempat tidurnya, mereka sudah bangun dan berjuang mendapatkan tempat tidurnya.
Dan disaat kakek sedang berusaha untuk tidur, mereka masih terjaga dan berharap pulang menuju kasur dengan semangat yang tak kendur.

Ayo lekaslah kalah.
Ayo cepatlah lelah.
Ayo segeralah gundah.
Ayo gunakanlah arah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s