Kepada Empati, Lilit yang Tiada, dan tak Terhingga

Dikala sembilu mengalunkan lantun yang menuntun hingga aku berlalu.

Lalu semua berlarian…
Lalu semua berguguran…
Dan lalu, semua menjadi keterlaluan…

Lalu ada, dan pilu reda, setelah degup dada atas segala tanya menjadi sebuah permintaan terakhir atas ketidaktahuan yang absolut; sungguh merinding mengilu hadirnya membuat takut.

Dan dibalik ketidaktahuan, bersyukurlah segala pilihan atas pengetahuan; namun tetap tidak akan mengurai simpul bebas yang berujung pada keputusan; diluar segala keputusasaan, diluar seluruh kepuasan nan temporer, dan diluar – sungguh berada diluar ranah lapang kejujuran.

Sungguh arah membuat jalan kita menjadi lelah. Ia dituju dan dilaju oleh kaki yang meninggalkan bercak nanah; keduanya tidak melambat dan memelan perlahan, namun malah – malah membuat gerah, gerah di sela jari-jari kakinya, kesah di sela-sela pita suaranya, dan pernah menggores-goreskan arah di segala tujunya.

Disaat semua mata angin berada di tengah, itu adalah waktu dimana matinya status dan klaim terhadap label menang dan kalah.

Dan disaat semua gravitasi menjadi bilangan nol mutlak, disitulah dimana pijak menjadi gelak tawa yang dibumbui penuh oleh caci pada diri secara telak – dan skak.

Namun, sebelum situasi nan genting dan gawat itu mencuat, hingga menjadi penting dan butuh dirawat, kondisi nan prihatin atas sebuah ragu yang terjalin harus tetap dijamin. Terjamin di atas sebuah pertaruhan, sebuah pergulatan, dan sebuah pencobaan pembunuhan diri.

Ingat dalam setiap detik kamu memekik:

Disaat fakta mencekikmu, disana argumentasi masuk menukik meminta harapmu.
Disaat fakta memburai otakmu, disana opini mengurai meminta laju detakmu.
Disaat fakta menikammu, disana pesan perlahan membisikimu atas sebuah penderitaan yang sejatinya membuatmu perih pedih sampai sisa tetesan darah terkahirmu mendidih – dan terus menggurat membuat lirih.

…Terus menerus dan tak pernah lelah mengurus sakit yang berdefinisi mampus.

Lalu aku akan musnah terbunuh lelah.
Lalu aku akan pasrah tenggelam oleh genang dan gurat nanah.
Lalu aku akan jengah terseret, tertembus terbawa darah.

Terserah, jika kamu ingin aku pasrah, biarkan aku mengadah menjadi wadah segala resah dan kilah dari segala isi dalam dirimu yang tercurah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s