Lore of Gore II: Otopsi

Aku terbujur dengan diafragma menganga dan terus memburai darah, membuatnya terkulai dan pasrah.
Akhirnya, dokter dengan mulut menganga, menganjurkan untuk memindahkanku menuju kamar pendingin yang berbau asin, digarami agar makin dingin.

Di atas pembaringan bersuhu dibawah nol, aku menggigil tak karuan dan berseru memohon doa yang afdol.
Pada arena sebuah mimpi untuk memadamkan api, penanganan itulah yang harus aku lalui.

Dan perlahan, rusukku mulai membiru, ulu hatiku mengkerut dan mengerucut; jatuh menyamping dan sekarang berada di samping, berhiaskan usus-usus yang menari dan bergetar kecil. Lekas masukkan kembali makanan supaya ia tidak kelar. Mulutku berusaha mengambil udara yang tipis dengan terampil, helai dan lembar rambut rontok karena mengeras, dan matanya terbelalak terlapisi lapisan es tipis dan membuatnya terus meringis; karena dipaksa untuk terus melihat tanpa pernah bisa menggugat.

Oh, dokter yang menganga kemudian membawa amplas dan gergaji.

Perlahan ia mengamplas kuku-kuku kakinya agar halus, agar tidak lagi berkulit dan membuat sulit pekerjaannya, layak menjahit.
Walau perih dan deru mendera, walau pedih meminta, aku berdiam menatap langit-langit putih menyilaukan karena pasrah adalah jawab padanya.

Perlahan namun pasti, dokter dengan mulut menganga akhirnya habis mengamplas seluruh jari jemarinya, membuat corak genangan merah, dan kerak darah yang merembes di bawah tubuh; Aku kemudian ditinggalkan, sekaligus dengan tumpukan jarum suntik berkarat yang ditiadakan.

Di malam pertamannya di rumah sakit, aku kembali bermimpi, mengisi api, dan memberi jawaban atas beragam tapi.

Tiba-tiba, suster datang dengan kateter, membangunkan mimpinya agar jiwanya tidak tercecer; Aku harus tetap bangun dan tetap menyala bagai senter.

Kateter mengucap salam selamat datang pada rektum, menyelusup masuk dan mengintip lalu merasuk hingga pangkal lipatan usus terakhir; mengacak-acak jaringannya, dan menggerogoti fungsinya.

Aku harus tetap bangun, aku masih ingin menyusun mimpi yang akan dibangun.

Dan diujung sulur kateter, aku kembali ditemani dengan suster-suster yang berjemari dan menghampiri sembari berlari-lari kecil tak karuan.

Aku tidak sendiri, terjaga agar tidak tidur lagi dan menari dalam sepi yang beku dengan tubuh menganga mengais pilu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s