Lore of Gore I: Koridor

Ia menelanjangiku; menjamah ruas kulitku dengan stetoskop bermerk paling top; wujudnya mulus, bening, menyentuhku dingin dan memberi segala sesuatu yang kuingin, namun tetap saja jadinya malah semakin mengerikan dan aku hanya ingin lari, tapi kemana?

Tapi ia adalah perwujudan mimpiku, ia pewujud mimpi, perupa mimpi, dan pelukis mimpi di siang bolong. Ia yang meronta meminta dibangunkan sejak pertama kali detak jantung ini mengalirkan darah ke rambat koridor seluruh tubuh.

Tolong.

Tolong, ia butuh dibantu dengan sebuah lolong, sebuah tolong dalam lorong, dan sebuah mimpi atas lorong.

Lorong gelap beraroma antibiotik dengan dokter-dokter tak berahang, dengan rongga mulut yang menganga mengundang terka.

Mereka ditemani suster-suster berpakaian putih dengan bercak noda genggaman para pasien – yang selalu berlarian tak karuan; ada yang menabrak dinding, ada yang meracau menjerit-jeritkan resep obat, dan ada pula yang bermasturbasi masal sembari merangkak, dan bahkan kayang. Dengan mata terpejam, di ruangan yang terang benderang. Menyilaukan.

Lalu para pasien menginjak-injak karpet penuh jarum suntik berkarat yang menjadikan langkah kaki mereka lebih berat dan seolah terjerat; jerat infeksi dan bakteri yang berbentuk seperti peri, peri yang mengabulkan keinginanmu, inginmu layaknya epidemi harapan yang sirna di ketiadaan dan histeria atas keberadaanmu.

Dijadikannya tali-tali rahim ampas janin yang sudah tidak diinginkan menjadi rajutan syal berbau darah kering dan amis seperti layaknya kain berbau pesing.

Dokter tak berahang kemudian memberikan diagnosa mengenai beberapa kemungkinan terindah baginya – dengan selamanya didalamnya. Tapi ia menolak, karena tak ada yang indah di dalam sesuatu yang dicap sebagai duta atas sebuah manifestasi rasa gundah – sebuah tuju asa yang terarah entah kemana.

Doa-doa dilantunkan seiring dengan grafik laju detak nadi ditemani dokter yang selalu menganga.

Dokter yang bermata bulat putih tanpa titik hitam; dihiasi urat-urat yang mengaliri menuju mata, selalu melihat tanpa pernah berkedip walau sejenak; hingga matanya selalu berderik-derik, namun tetap melihat ke segala arah.

Tatapnya tidak kosong apa yang ia tuju, namun menyeluruh dan membuat para pasien yang ditatapnya seolah luluh dan membuat gemuruh di dalam luruh jiwanya.

Sang dokter selalu berjalan dengan pakaian yang rapi namun bertungkai berlawanan arah, ia berjalan layaknya unggas, namun tetap elegan, karena ia seorang dokter yang selalu menganga.

Bahunya kecil, namun tungkai lengannya panjang, seperti primata; bedanya, dokter selalu menyeret-nyeret stetoskopnya, dan menebar jarum suntik di setiap langkah derita yang ia tinggalkan.

Dokter jarang membicarakan sesuatu, yang terdengar hanyalah deru nafas layak gergaji mesin yang terendam oli, dan memang dokter lihai menggunakan gergaji.

Tiba-tiba saja, suster tak berlutut mendatangi dokter. Ia datang dengan menyeret kedua kakinya, dan menyisakan garis genang darah di jalurnya. Ia kemudian memberi pesan sambil menahan rasa sakit karena tak mempunyai lutut; dengan lelehan daging cair di kedua tungkai kaki hingga telapak, ia meminta izin untuk pulang, yang segera dokter iyakan. Suster kemudian membuka celana dokter dan mengulum penis dokter seraya mencekik dirinya dengan tali stetoskop dan memasukkan beberapa jarum suntik berkarat kedalam labia mayoranya.

Suster telah pulang.

Dan aku tetap duduk dengan diafragma terbuka dan detak jantung yang perkusif, gaduh berirama.

Aku ingin pulang juga, dokter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s