Alas Atas Alasan Aktual

Mohon ceritakan padaku apa itu kisah dongeng atas hidupku.

Ceritakan dalam susunan prosa dan puisi yang terbentang atas jalinan nafasku.

Nafasku akan selalu menjadi tinta dalam hamparan kain putih yang mudah terobek oleh pena tajam di atas susunan kata yang terlalu kau tekankan.

Menekankan pada perbuatanku, ataukah pada sesuatu yang belum kuperbuat?

Karena kain ini setipis kesadaranku.

Kesadaranku untuk mengetahui ini bukan sebuah meja judi dimana aku harus melempar dadu kala ingin menyetor jatah nafasku.

Karena nafas memang selalu ada untuk dijadikan taruhan awal.

Taruhan atas semua tinta yang kubeli untuk menuliskan semua tentangku dalam sebuah hampar polos yang terbentang.

Hingga akhirnya pelipis ini menipis.

Hingga akhirnya kutertawa atas apa yang kulewatkan dalam beberapa menit.

Hingga akhirnya kesadaran menjadi sebuah rasio atas nafas yang terenggut.

Padahal, nafas sama sekali tak pernah terpagut.

Hingga rimbun jembutku menemani.

Sampai genangan merah yang kulukiskan pada ciptaan kaumku, ia masih menemani.

Hingga pada akhirnya, menulis bukan hanya menggoreskan sebuah alasan, maupun kesan ataupun pesan.

Ini ajang benturan.

Menjadikan nafasku sebagai kanvas indah nan rupawan.

Dalam jelaga hitam yang mengering dan menjadikan raga ini sebagai bingkai.

Menggantikan tetesan tinta menjadi sebuah butir cairan yang mengeras menjadi arah dan pesan, bahkan membusur layak panah.

Kemana kita akan menuju bersama kaumku?

Hingga saat dimana seluruh bekas tulisanmu ya tuhan, menjadi alasan bagiku untuk mengetahui kalau aku masih mempunyai nafas darimu.

Entah selebrasi, ataukah sebuah akuisisi atas nilai yang ada.

Aku hanya tau ini adalah awal dari hingga.

Dibasuh hingga menjadi jingga.

Ditutupi hingga menjadi jelaga merah.

Dielus dan dipatri oleh mineral aktif yang sering berlaga.

Dalam tatanan biologis pembentuk raga.

Hingga akhirnya dongengku belum selesai sampai.

Sampai sampan nafasku bermuara bukan menuju lautan.

Namun menuju alir sungai penuh dengan panutan.

Panutan atas keleluasaannya menciptakan alur yang berkesan.

Bagi seluruh ciptaan.

Hingga tak ayal aku tak berdefinisi atas hingga dalam karyamu.

Ini karyaku.

Hingga aku terangkat menuju sebuah perangkat baru yang kau buat erat.

Erat dengan nafasku yang semakin berkarat.

Sampai sempat kau katakan bahwa lebih tepat semua nafas menjadi pekat pada ujung kisahku.

Dan pada hingga aku tahu aku tak bisa hinggap.

Aku akan memanen semua yang kau beri, memanen semua yang kau cipta.

Agar aku dapat menghargai dengan nilaiku, persepsiku.

Karena semua masih menulis di kainku.

Menulis dengan tinta nafasku.

Terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s