Kriya Binaria

Memangnya, siapa dia menyamakan dirinya dengan siapapun? Jika ia sungkan tuk melihat panorama grafis bertumpuk secara langsung,
langsung saja tengok tanpa menunggu angka-angka yang bertambah di sudut.

Sudut wacana tak nyata dari apa yang saudara se-rahim kita bilang itu adalah referensi dari yang akan nyata.

Nyatanya, tak ada satupun yang mampu melihat dari susunan fakta.

Entahlah, sekarang mata uang sudah tertutup oleh mata telinga yang berfluktuasi atas waktu yang telah merunduk merendah.

Nilai tukar waktu kita merendah.
Terlalu menderai jari kita mengadah.

Atas susunan aksara layaknya peta yang ditunjuk panah.

Rangkumlah semua lamanmu dalam binari.

Satuan alpha omega yang bertautan layaknya lokomotif yang menari.

Loko telah masuk depo.

Depo berkerangka realita.

Loko yang terus mengumbar identitas imajiner di susunan biner.

Hingga ususmu berevolusi dan berpindah menuju kepala.

Hingga adanya mata melihat spektrum mengulum mencandai imaji dalam wadah lapis elektroda yang berpiksel.

Seakan nutrisi, maupun zat gizi membuatmu lupa akan hakiki dari buliran, aliran padi.

Karena tak ada satupun butir padi dalam jejaring.

Padi terlalu kecil tuk dijaring.

Entahlah, ibu jari lebih bermakna daripada menjepit sendal hijau berlogo bangau.

Hingga dunia dapat terlihat oleh kau.

Oleh ibu yang bermata, jempol dengan telinga.

Nyatanya, kita berdandan dan berkarya dalam griya.

Nyatanya, panel visual menelanjangi kita dalam dunia semu dan maya.

Seakan karibmu adalah dirimu, dan kualitas atas sahabat hanyalah kuantitas dalam rumah binermu dan anti-depresan dari tuntutan hak bersosialmu. Hingga kau mengadat tobat membutuhkan obat jika tidak melihat panel cairan kristalmu.

Kerap kalanya media menjadi setia menemani pria mencari sasaran pemenuhan birahi mereka yang sia-sia. Dilakukan di dalam realita dan mengaduh aduh pilu bertanya pada tuhannya yang tiada.

Hingga kiranya ketuhanan tidak berlaku dalam imaji visual yang tertahan.

Karena harga sewa atas tuhan sangat murah di sini.

Karena dimana tuhan mencipta, ciptaannya yang dikutuk dapat mencipta sesuatu agar dapat merasakan ketuhanan-mu, ya tuhan.

Hingga saat norma mengaduh pada moralita di dalam, semua telah terlambat.

Hingga saat semua sudah terlambat, maka moralita menjadi sebuah relatifitas atas makna dan budaya.

Sebuah sistem kriya, dan karya sistematis, terkulturalisasi dan menjadi sebuah suku maya yang berbicara melalui jari jemari.

Maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s