Kenang Dalam Ruang

Kurindu romansa telinga bertemu mata dan hati yang menjembatani, dan mungkin, sebagai penghulu atas mahar berupa susuanan frase yang meng-atase kan persepsi atas keyakinan.

Jika, jika memang infra, dan nada pita merah dalam pipa nafasku tak mampu menjadi visual dalam rana mu, aku akan peduli.

Karena memang hanya sedikit… Satu, oh, dua, oh mungkin, tiga kerabat spesies yang bisa.

Aku tak suka menggambar not balok dalam kepalaku di satuan kanvas rana mu.

Karena kanvas yang lain itu sempit.

Aku menyukai kenyamanan dalam bervisual.

Entah akan jadi sebuah adegan anal, atau susunan tatanan kata yang banal.

Aku suka itu.

Bagai menyodomi persepsi hanya untuk membuatku merasa telah menguncimu dalam satu ronde pertandingan gulat. Bahkan, sampai frase ku melarat. Dan ranamu terbelalak.

Laknat.

Berteman dengan sesama spesies itu laknat.

Kita berspesies, tapi saling berspesialisasi, satu sama lain atas ego dan paradigma mekanis dalam hubungan verbal diantaranya… Oh, masih ada yang mau main anal sepertinya.

Jadi tolonglah… Jadilah bunker atau Louvre bagi visualku, piringan hitam bagi nadaku, dan kriptogram bagi diksiku.

Karena kalian adalah satuan pandangan, dan aku ingin ada dalam bingkai diafragma kalian.

Terpatri dalam rana, dan tersudut oleh cahaya.

Jangan beri aku gelap, karena mungkin lelap tak memberi intuisi untukku.
Jangan beri aku terang, karena mungkin binar telah ada lebih dulu. Untukku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s