Sajak Penuh Kasih Bagi Sang Lelap

Jika sekarang kantuk tak dapat dibeli, dimana lagi waralaba yang menjual kondensasi berisi pil seukuran kelingking jariku?
Ah aku mengantuk!
Aku ingin bernyanyi tentang kantuk, aku ingin bercinta dengan kantuk, dia tahu kantuk bukan milikku…
Aku ingin berlayar berpesiar dengan kantuk, aku ingin kantuk membelikanku alarm, ataupun bel, dari susunan emas bercampur karat, hingga jika dipukul kantuk tak akan sirna dariku.
Hitunglah hingga berpuluh tahun aku meniup lilin, aku ingin kantuk sebagai kado terindah.

Karena, semua yang pernah terkantuk, tersangkut, maupun terangkut oleh sebuah kuantitas kuesioner hingga mereka tidak bisa dijabarkan lagi; apakah ia manusia, ataukah sebuah industri yang terdapat atasnya? Apakah ia hasilnya, ucapannya, maupun sentuhannya di garis-garis guratan besi? Di pahatan balok kayu pinus yang nyaring, maupun di sosok badut terkotor yang suka menyapu lantai, oh aku mau mereka mau, menjadi tujuan kantukku.

Tolong jangan ganggu cintaku terhadap kantuk, karena kantuk adalah obat segala tanya, obat dari segala obat, dan aku tak ingin membuatku kelu dan rapuh kalau tak ada kantuk.

Kantuk itu tuhanku, kantuk itu jalanku, aku ingin kantuk di kala sepuh.
Sekarang sudah tak cemas kutanya, dan awas saja, jika aku mau kantuk ada untuk kuperas.

Hei, kantuk, dengarkah dirimu? Kalau ada seorang lain tau kantuk tidak mau aku sendiri bersamamu, aku hanya ingin kamu tahu, jika menurutku semua sudah terlambat. Maka semua jaringan merah muda penyambung nafasku telah menjadi abu, pipa merah pucatku telah menjadi radang dalam laparku, gumpalan keringatku telah berbau gandum basi dan membentuk bulir hasil kondensasi mematikan jika dicampur balsem pijat.

Kalau lah belum terlambat oh kantuk, maka berikanlah aku gantimu. Aku tak mau memakan kantuk, karena kantuk itu cinta. Aku tak mau memakan cinta karena kantuk tau dia bukan temannya. Aku ini kantuk, dia bukan tanda bersauh.

Saat kantuk menyapa, wahai pemujaku, aku akan berada paling depan laksana kau sebagai patron protagonis dalam drama musikal terhebat dan termegah di relung lubang telingaku.

Lekas ciptakanlah konser setiap malamku agar aku mengagumimu, duhai kantuk.

Kantuk bukan hormon, lalu mengapa para pendikte tuhan atas ciptaannya membuatmu terlihat begitu simpel, oh kantuk?

Kantuk aku ingin tahu.

Apa yang bisa kulakukan agar kantuk mencintaiku?

Aku mau kantuk tahu aku ingin menunduk mengaduk intuisiku untuk jejak pijak kedepan. Aku bukanlah definisi atas pukul 3 malam. Dan aku bukanlah logika atas jam 12 siang.

Bukan kantuk yang kusalahkan, bukan kantuk yang kuimpikan.

Tarik saja diafragmaku dan bilik kiri jantungku hingga kutemui kantuk disana.
Bangunkan aku di kala sepuh.

Bangunkan aku sebelum lipatan keriput merah ini semakin melegam menghitam tak karuan. Mengemis atas pasangannya yang masih pucat. Uhh, kantuk aku mau.

Selamatkan dari imaji visual yang tak karuan dan menjijikan seakan semua yang terlihat adalah gambaran selangkangan berjamur yang tak pernah dijemur. Hingga aliran muntah dalam perut ku terbuat karena aku mau menyambut kantuk dengan bersih dikamarku.

Mari kantuk jemput aku dalam testimonimu, profilmu, dan segala atasmu.

Hingga tak perlu kau berjalan jauh untuk menemukanku dalam daftar hadiah yang harus diberikan sinterklas ketika natal, maupun tersembunyi di dalam jalinan hijau berisi nasi kepal.

Ayo kantuk ketok pintu.
Dan jemput aku agar membantu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s