Argumen Politis Skeptis Non-Kompeten

Sekarang orang suka makan kursi.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.

Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.

Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.

Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.

Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan ASI,
pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.

Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?

Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.

Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.

Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.

Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.

Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas oleh tsunami?

Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.

Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.

Persetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.

Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s