Menebas Candu Selayak Menebus Rindu, Padamu.

Aku telah berdansa dalam api, menari dengan belati.

Sekarang api membakar kepala hingga guratan otakku mengering kering matang.

Siapa mau otakku?

Belati sukses kutelan dan sekarang peniti-peniti menjadi asam lambung sebagai sarana mencerna paku dan pecahan kaca.

Aku muak terhadap apresiasi atas adiksi.
Karena memang hidup cuma sekali, maka tak perlu membuka lebih dari satu, bukan?

Siapa suruh jika sekarang lebih mudah untuk jatuh cinta?

Cinta terhadap kondensasi berkuantitas persen.
Aku tak mau mengemis sen demi sen, karena aku ingin jalan yang lurus.

Ketika api dan belati membuatku menggigil dan berkedut-kedut ketika malam, oh tuhan, kirimkan saja malaikatmu untuk mencumbuku.

Mencumbuku hingga habis nafas di paruku dan menyisakan batu bara cair yang membara dengan api di dalam setiap cabang dan jalinan alveolus-ku.

Aku hanya ingin diam, tuhan.
Tapi mengapa tuhan tak bisa diam?

Aku hanya ingin mandiri, tapi tuhan tak mau sendiri.

Aku tahu tuhan marah padaku.
Tapi tuhan tak pernah menjelaskan definisi atasnya.

Aku mau tau tuhan.
Aku mau berikan aku air, berikan aku bantal.

Aku ingin padamkan api dan menyimpan belati dalam bantal.
Hingga nanti tak perlu lagi menelan tajam dan bermandi bara ketika ku takut.

Tapi menjadinya ketika ku berani.

Aku hanya ingin berhenti.
Tolong, aku penat.

Penat dan kumat hanyalah sebuah definisi tak berdefinitif terhadap suatu bentuk solutif aktif yang adiktif.

Jadikan aku nabi dalamku, dan engkau patronku.
Aku tak punya tujuan, sedangkan nabi membuat tujuan.

Hingga akhirnya api ini nanti padam, maka buatlah api itu membakar belatiku juga.

Adiksi, diksi, dan sebuah (a) diksi.

Menjadikanku fiksi dalam layar datar kristal yang menghampar proton elektron lalu menjadikannya satuan pelangi yang membentuk imaji.

Hingga aku lebih suka mencumbu genangan darah dari kerongkongan dan airmata aseton untuk mengobati luka di hatiku.

Aku sakit, itu benar.
Aku sehat, itu baik.

Keparatlah kalian yang tak bisa kusalahkan karena aku sendiri memang kualat.

Terkutuklah orang tuaku dan tenggelamkan saja kapal-kapal itu atau bisa saja aku membakar mercusuar itu, dan membabat habis segala berhala yang berupa para penjaga yang tak berdosa.

Bukan ingin menghilangkan arah.
Tapi ingin diam dan berserah

Tapi apa daya?

Aku membusuk dan merambat berlumut.
Ingat… Karena ini bukan lubang pubertas, ini jurang realitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s