Singgah Dalam Surai, Bertamu Lalu Memuai.

Aku benci mendengar denting kunci.

Yang tak dirantai satu dengan yang lain, dan terpatri.

Siapa yang mengijinkan tuk mengetuk di dalam benak diriku?

Menekuk punggung dan mematahkan kusen daun pintu… Silahkan duduk, bisa ditunggu?

Siapa ayal sendiri tuk membuai khayal?

Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan.

Nampan-nampan yang kosong, tampan.

Dan kemudian kilah itu menebar celah kesalahan atas allah.

Mengapa konstruksi tuhan kau anggap sebagai bualan?

Seakan baik adalah konsep, dan kebenaran merupakan hasil delik dan timbang perkara dari aksi reaksi terhadap sebuah sikap.

Pesan ilahi kau jadikan sentimen pribadi.

Sungguh lancang kau menjajikan dirimu sendiri surga yang berdiri di atas pondasi dosa yang tak surut bermuara.

Layak seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana.

Menjungkal keragaman hanya dengan asas keimanan. Semata.

Dibutakan oleh pencaharian semata, berujung tak bertata demi mengais harta. Bahkan tahta.

Ingat, imanitas bukan imunitas. Terutama terkait penyakit kebenaran yang ternyata petaka dari sebuah penyakit.

Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening.

Menghitam, makin hitam makin legam.

Legam arang banggalah kau mengerang.

Kepadanya seakan ia mendengar ajakan.

Dibalik legam dahi mendamba restu ilahi, dan lebat janggut diatas rasa kemanusiaan yang kau lupakan dan renggut, dirimu masih seorang manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasianya.

Rahasia semesta hingga ayal.

Aku hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa,

kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping,

persoalanmu, bahkan itu tak mampu,

memberi solusi:

Apakah itu baik?

Aku tak tahu apakah itu intuisi?

Diriku atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu?

Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya.

Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung,

adalah benar dan lain itu mungkar?

Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?

Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan, benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi, semoga, orang yang paling baik yang bakal naik.

Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tahi.

Urai ususku hingga kau terbuai, tebar merah darah yang telah terarah.

Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan.

Lakukan, maka kau lihat dan telan.

Semua asumsi atas intuisi.

Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal.

Tutup kupingmu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.

Namun di dalam ketiadaan detak petak otak yang berdenyut dan memeta semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s