Jaringan Seksual Satu Arah

Korespondensi atas sebuah perasaan manis hanyalah bualan fiksi pada layar imaji yang semakin tipis.

Ah, aku jadi ingin pipis.

Mengairi mulut dan muka lacur mereka yang berbalut kawat karet hingga berbau cuka dan lengket.

Sekarang, siapa yang mau bertamu kalau mereka tak menyediakan pintu untukku? Semua rumah telah menyatakan tak ada kamar kosong didalam.

Hanya dapur, dapur, dan dapur.

Lahan pengolah intuisi yang terbujur kaku pada nampan siap saji sang koki.

Voila, koki itu nabi.
Tuhan itu aku.
Dan semua manusia telah menjadi tuhan.

Siapa yang sanggup menerima kualitas jika kuantitas terjebak dalam satuan koma; lalu menjadi kitab suci para penikmat yang tak bermata, juga beriman.

Bukan menggubah iri sebagai inti, dan aku mau menjadi bagian dari kalian. Namun visi bukan misi yang kalian tawarkan adalah sebuah komunikasi terjal nan menjijikan. Layaknya lipatan keriput rektum sehabis melakukan penetrasi anal dengan kasar; membayangkannya saja, membuatku jijik dan menjalar hingga seluruh panca indra.

Mari kita berdusta atas dasar kebaikan yang kalian cap.

Semua individu menjadi abu dalam sebuah senapan berbalut kabel dan mengikat seluruh.

Perbudaklah aku dalam menu kalian.

Ini bukan resto, ini adalah apa yang kalian jajakan.

Demi jajaran pewarna wacana, dan pengawet hagemoni yang suci, rusaklah apa yang mau menjadi baik.

Sungguh kasihan jika barisan clitoris dan penis-penis muda disana lebih bisa berorgasme lebih cepat karena kalian.

Berejakulasi dini pada wadah masturbasi komunikasi dalam jangkauan televisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s