The Sins VII: Gula

Oh, aku gemar sekali bersenda gurau dengan hasrat pada bakat yang terdapat dalam panganan padat.
Berikanlah, biarkanlah, karena aku tidak perlu berkilah.

Karena aku tak lelah melahap makna yang keliru, bahkan salah.
Maka benarkan aku untuk selalu mengadah.
Mengadah memberi wadah yang tak pernah mengalah.

Sudah.

Aku lupa akan sudah, menyudahi meludahi rekanan hasrat yang tak pernah puas.
Hingga kucampakkan saja puas.

Aku sudah didepan, melahap menuang meramu tak jemu, dalam saluran hasrat penuh godaan.
Hummm, aku berdendang pada pangan yang selalu memuas pandang.

Dalam pandang tentu dilain mata, dilain terka. Bahkan pada sesi akhir aku baru saja memulai. Padahal yang lain sudah bercukup dan menutup, aku baru saja membuka dan kembali meletup.

Bukan goda aku yang bersalah, bukan dada aku berdebar resah, namun aku hanya tidak memiliki jeda untuk dibuat celah.

Kerap beri karena aku takkan sungkan mengambil dan lari.
Menderap mengambil kemudian karena aku adalah mesin pemuas goda yang terampil.

Ya sudahlah, aku tak mengenal sudah bukan?
Ya cukuplah, toh, cukup sudah buat ku tersedan?
Tidak cukuplah satu kuperebutkan dalam sambut ronta yang serta merta.
Tidak sudahlah dua kuizinkan dalam hasrat yang mengerat tepat.

Akulah imbuhan dalam lahap yang tak terlelap. Akulah sisipan akan dahaga yang terjaga. Akulah penghalang santun pada ujung bundar yang tertambun. Namun aku takkan meminta ampun, sekian, biarkan hasrat ini terus mengalun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s