The Sins IV: Superbia

Ialah adalah hierarki tertinggi atas dirinya yang anarki, membawa menari meneriakkan suku kata yang membuat dirinya semakin disegani, namun jauh dari teka dan teki, tapi tetap saja dia kehilangan engsel lehernya untuk membuatnya terenung tertunduk mengaduk lamun.

Ia pemakan seluruh kaca dan pantulan cahaya, memaki obskura dan kumpulan kolase warna yang mengidentifikasikan ia tanpa seizin, dan mungkin sepenuh ia ingin melihat ia tanpa mata kalian melihatnya.

Karena ia adalah posisi lebih dari allah menurutnya.

Dan tetap tak mau ditelaah.
Takutnya nanti ia bakal marah.
Dan mengacuhkan kalian, seraya menjauh dan menghilangkan arah.

Karena ia adalah superordinat atas ordinat yang terpetakan tepat.
Dan ia kukuh tetap tak mau taat.
Takutnya ia bakal mendebat.
Dan menginterupsi kalian para subordinat yang ia nilai lambat.

Ia memanggil dirinya dengan hamparan sajak yang terhebat, dan puisi dengan saduran tinta emas tanpa isi.

Ia mengaku dirinya sebagai sebuah pelaku yang mengaku ada untuk membuat kalian mengaku padanya, yang menjadi tolak ukur baku.

Ia lebih dari segala.
Ia perih dari nyaman tanpa cela.
Ia tak tunduk tak merunduk mengaduk, posisinya tetap diatas dan tak selalu duduk.

Duduk tepat pasti dengan aksi melebihi semua isi di bawahnya.
Duduk tepat pasti menjual tampilan dan mengurai pujian atas dirinya yang mungkin saja kesepian.

Di atas.

Di kesenjangan tanpa batas. Berkaca pada tiada yang tak berbalas. Seolah semua semesta adalah miliknya yang paling pantas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s