The Sins II: Avaritia

Aku mau atas tahu, dan akan kuambil tanpa kenal malu lalu menghambur keluar berlalu tanpa sejengkal bau.

Aku ragu ia tahu atas milik, dan tanpa delik akan ku tarik seluruh wacanamu hingga kubuat kau berderik menyanyikan lirik atas rasa hilang yang terpelik.

Karena aku mau aku tahu, tanpa malu dan ragu mengaku pada suatu jika aku mau.

Bahwa aku mau mengadu pada dalamnya ingin yang beradu-adu; mengais-ais sesuatu yang jelas aku mau.

Dan bagian satu, aku mau pada suatu yang kaku namun baku, dan menjadi jubah nomor satu dalam klasemen yang diakui.

Berikanlah aku nominasi yang ku mau; yang dapat membelimu, memberimu angka, hingga kelak kau menjadi tiada dalam hamparan mauku.

Karena aku tetap menjadi mau.

Mau seluruh yang kau tahu dan akan kubeli, kucari, kukumpulkan, dengan seluruh peluh yang menyeluruh, sampai ku dapat mendaki, jajaki, tumpukan mauku yang telah kutahu.

Aku tidak peduli kau yang mungkin galau atau jadinya silau atas gemerlap mauku yang ada melebihi kapasitas tampung sakumu.

Karena aku mau.

Lalu bagian dua, aku akan ada dalam jeda hingga rasa mauku menjadi berada karena ia.

Tapi aku tetap mau karena ia menjadi pelengkap selangka nomor wahid dalam strata vertikal sosial yang solid.

Saat dimana kau berlalu mengalunkan langkah yang berlalu, lalu aku jadi mau… Tapi pakai malu adalah kau sebagai objek mauku yang tak berkurensi, tak bernominasi, namun ingin kumiliki.

Tapi aku tetap mau dirimu… Dengan menjadikan rasa mau sebagai manifestasi pencapaian atas ia yang mungkin, di kemudian hari akan menjadi wadah penunjang nutrisi bagi hasil mauku.

Aku tidak peduli ia yang mungkin enggan atau bakal deg-degan atas pesona mauku yang sekarang lebih beradab dan punya rasa malu… Karena ini masalah tentang dirimu yang aku suka sampai aku haru jadi biru tapi aku tetap mau karena aku mau.

Tanpa satu, dua, tiga akan kurang lengkap karena aku mau bagian tiga yang menjadi titik klimaks formalitas; dan legalitas atas deposit mauku yang dinamis bertambah dengan gesit.

Yang kurang dari mauku hanyalah tinggal aku… Akui aku atas mauku yang dapat mendapat dengan cepat, dan kau terkesiap atas derap yang tepat mendapat semua mauku yang ku harap.

Hanya sekedar tambahan penghormatan yang kelihatan sangatlah mengesankan agar mauku dapat terpampang dengan jelas di penghujung tambatan angan kalian yang inginnya aku tak mau lagi bukan?

Aku tidak peduli ia yang mungkin iri atau ngeri karena semua mauku adalah lintasan lari yang paling memberi. Memberiku atas seluruh mauku, dan aku ingin, aku ingin aku tetap mau menjadi aku sebelum aku menjadi miliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s