The Sins I: Ira

Lalu tanpa sadar atas sabar ia mengumpat atas benar.
Melonjak meloncat melewati batas tanjak tanpa takut kehilangan petak pijak.
Murka dan membuka seluruh terka dan akhirnya menghabisimu tanpa seutas kata.

Ia tertawa atas kecam dan ancam.

Ia tergelak atas luka dan duka.

Lalu dengan sengaja dan menjaja seluruh tuju yang hitam terjelaga.
Memendekkan sumbu simpul laras yang mengeras terbakar hingga jadi ampas.
Menderumu dengan deru keji dan benci; lalu akhirnya mengawalimu dengan untaian caci.

Ia menari atas kalut dan takut.

Ia bernyanyi atas hantam dan dendam.

Impulsifitas atas moralitas tanpa batas, dan teras kertas yang menjadi retas gelas; lekas pecahkan saja kalau tidak sabar; jadinya gegas darah deras mendesir keras.

Intuisi mengandung spontaniasi tanpa mediasi. Hingga lalu basi, dan tanpa komando mengagregasi putusan yang tak terputuskan, dan menguras isi di seluruh sisi dengan aksi menolak delik dari saksi.

Oh, sabar lekas datang membawa kabar.

Oh, sabar lekas hadang mengurang debar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s