Dialektika Romantika III: Sentuh

Telah jumpa pada kata dan berujung menjalin untai jerat pekat dan terjembatani oleh sentuh. Ia adalah sebuah stratifikasi, proses, dan sistem dalam satuan pakem yang disepakati oleh semua yang berjabat dan berdebat dalam hati. Menyudahi tanpa meludahi sebuah makna pada jalinan kata tanpa bahasa; sebuah sapa tanpa lambaian telapak terbuka; dan komitmen tanpa satuan hitung yang permanen.

Karena sentuh adalah bentuk penuh dari sebuah pengertian simbol yang menjadi perhatian kedua pihak. Tanpa gurat bibir dan gerak tubuh, hanya sentuh yang dapat mengusap keluh ketidakmengertian seluruh pelik dan delik yang menjadi polemik. Dan selayaknya menjadi ampuh; walau dengan gerak tak tertebak, jiwa menjadi medium raga yang menyampaikan pesan dengan jujur tak berjelaga. Dengan tenaga yang meraih merengkuh terjaga; dengan siaga menjawab semua kontradiksi dan hingga.

Dan sentuh adalah perpanjangan vena yang mengaliri tidak hanya dirimu, namun juga ia yang menyediakan. Dan hingga seluruh perbedaan tersebut menjadi sebuah wahana terbesar dan tergusar yang memilin-milin afeksi dan intuisimu dalam bentuk sentuhan. Ia akan selayaknya menjadi jawaban universal atas segala yang belum kau kenal. Sentuh dengan seiring kau ingin menyentuh, dan tanpa ragu, jarak akan menghapus jauh dari satuan nominalnya.

Sentuh sedekat ia ingin mengenal lebih jauh. Bentuklah sentuh dengan selaras ia ingin menderu deras semua bahasa yang ingin kau pentas. Sentuh seluruh pada semua ketidakpastian yang menjadi variabel jenuh. Dan sentuh, sejujurnya ia mengenalmu lebih diatas tataran strata linguistik semesta; dan kesunyian yang mutlak nyata. Hingga sentuh menjadi riuh ramai rendah dan tak tercapai dengan suatu yang terhunus pasti dengan segala arus, layak belati yang menelisik mengurai merobek bentuk arti.

Pada tuhan yang mengindrakan manusianya atas sentuh; yang merasa lebih dari sekedar sapa di epidermis, terberkatilah.

Pada tuhan yang memberi makna dalam setiap sentuh; yang mengikat jalinan kognisi berlandas aksi intuisi terdasar manusia yang tersadar saling bertukar, terpuaskanlah.

Pada tuhan yang memberi seluruh pertanyaan yang tidak terbatas pada pemahaman semiotika, dan dialektika sebatas ratusan, bahkan ribuan kata, sentuhlah tanpa takut tuk tersesat karena tak berpeta.

Padamu yang tak dapat terjawab dan terdefinisikan oleh semua buai dan helai; padamu yang tak dapat terbatasi makna dan menjadi penyambut suasana; maka sentuhlah tanpa tahu ia takkan tahu dibalik lekat terdekat dua individu yang saling tercekat dan terikat; tanpa bahasa adalah kata dibalik makna, dan mengurai seluruh konsonan dan vokal menjadi sebuah semesta di antaranya.

Yang akan mendekatkan.

Yang bersauh dan menyentuh.

Yang saling tak ingin berpaling.

 

 

Sekian, dan semoga kau yang membaca akan merasa demikian.

Karena rasa layak sentuh, ia akan tiba membangunkan harap yang jenuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s