Dialektika Romantika II: Kata

Kata adalah sebuah nilai jual ekonomi pada bursa dagang dengan valas rasa dan indeks bursa normatif individu yang berpasangan; berkurensi pada titik akurasi atas mata nilai bernama intuisi.

Intuisi mengintitusikan rasa nyaman sehingga akan aman. Dan nantinya akan membentuk bata-bata perbedaan bergenting komitmen; direkatkan oleh kata sebagai semen yang menjadikannya permanen.

Kata dapat juga menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan lembah dan puncak gunung; merajut transportasi atas kendaraan yang ditumpangi rasa percaya. Percaya dan niscaya, setinggi dan securam apapun tebing yang didaki agar dapat saling terhubung; tentulah ia akan ada di ujung jalan yang kau bangun sambung. Walau tungkai lemas tak terperi dan lunglai cemas tak berseri, namun kata ada sebagai bahan bakar dengan tinggi kadar oktan yang terus melecut melesat sapaan yang tak terbantahkan, dan akurat tanpa sedikitpun meleset dari sasaran.

Walau kadangkala kata menjadi sebuah bentuk atas pemujaan berhala tak bertahta, kata dapat bertindak pula sebagai puji-puji dan lantun doa penuh santun; yang terkirim dengan proses pertukaran kesadaran kolektif linguistik yang atraktif. Dimana kedua individu berada dalam strata tertinggi melebihi barter feromon antar keduanya; dan saling beradu candu, bermediasi diksi penuh candu.

Di sisi lain, kata sebagai sebuah usaha atas menata. Menata sebuah dan menjalin hingga berbuah. Segala macam perbedaan x dan y yang tak akan pernah mengalah dan akhirnya berakhir pada misi yang tergenting, terpenting di dalam satuan pengkalkulasian matematika: kata sejatinya menjadi penghubung, tanda kurung satuan rumus hitung kromosom yang melantun dan saling bergantung.

Namun kata tidak luput atas sesal dan kesal yang mencengkram membaut. Kata mampu mengunci rasa perasa kalian yang saling bertaut hingga patut tuk dillihat, dijenguk, dan dijemput. Hingga salah satunya sakit akut, kata itu sendiri adalah obat bagi mereka yang beradu debat, dan saling sikat mengorosi perbedaan keduanya hingga tidak akhirnya sama, namun saling melengkapi dan lengkap dengan apik dan hebat.

Lalu berujung pada akhir kata, susunan kalimat bermakna, dan jalinan komunikasi dua arah yang nyata adalah sebuah barisan prosa panjang dan maha menawan; memajang seluruh arti tujuan salah satu pihak yang kadarnya melebihi laporan biologis atas arti tatapan rana sang mata. Kata atas mata yang melihat, melihat segala tanpa lidah menjulur tak teratur dan lalu tercekat cepat.

Kata adalah sebuah meja makan penuh sajian afeksi yang sangat bernutrisi dan berisi. Berisi masing-masing pangan yang berempah dengan mewah dan ketika dikonsumsi menjadi sebuah pertunjukkan opera nan megah. Hingga membuatmu sulit mengatakan seberapa wah-nya pentas tersebut, karena kau sendiri lupa penggunaan kata sumpah sebagai struktur bahasa yang menarik tuk ditelaah.

Karena kata yang jujur tak butuh penyadur.

Karena kata yang jujur tak perlu dianjur.

Karena kata adalah bahasa di atas bahasa. Makna dibalik wacana yang selalu mengena, sebab jujur yang jadi karena.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s