Dialektika Romantika I: Jumpa

Perjumpaan dua pasang pengendali kelamin yang berbeda dalam satu momen adalah sebuah skenario tak tertulis; dan mungkin ketidaksengajaan yang berharap untuk sengaja di masa lalu kala melamun, dan bermonolog pada senja.

Jumpa adalah suatu interaksi tak berlandas aksi, namun penuh intuisi, yang mengisi dengan satuan isi. Berkorelasi dengan seluruh variabel penentu di masing belah pihak dan menjadi kohesi yang saling bertautan, namun tak selalu berkaitan di masa depan.

Kadang jumpa merupakan sebuah pertanyaan esay yang ada di balik halaman jawaban ujian nasional salah satu pihak yang tak ia kira. Ia kadang tak mengira adanya pertanyaan yang tak berlatarbelakang angan, tanpa berkata manis akan, tanpa menyambut-menyebut teman, dan tiba-tiba saja sudah muncul pertanyaan (lainnya).

Ia layak pertanyaan yang ada disaat kau telah menjawab seluruh pertanyaan.

Layaknya pertanyaan yang tidak kau harap, namun tidak kau sangka dan kemudian hinggap. Tidak memerlukan persiapan khusus yang cepat tanggap, namun terjadi cepat dan mantap.

Momen jumpa adalah sebuah kejadian yang terjadi, namun kau tak mengira itu akan tersaji, dan kau berharap saat itu kau telah menjadi.

Namun jumpa adalah sebuah momentum yang berkelanjutan menjadi dentum. Dentum pada aksi kolektifmu, menjadi pengisi dalam kesadaranmu. Namun tak kau sadari.

Hanya jumpa.

Mungkin, kadangkala jumpa berupa tidak temunya rupa. Hanya sapa melalui barisan lotere pilihan di arus liar jalan kedepan. Pada jumpa yang diniatkan menjadi sapa atas satu pihak yang tertarik rupa, bisa saja menjadi landasan taruhan yang berbanding kecil; dibumbui tak lebih dari imaji, dan menjajakan umpan tersaji atas rupa jumpa yang ia landaskan sebagai taji.

Dan jumpa adalah saat hela nafasmu terkesiap; tak siap kau menerima sesuatu yang menjeda mu, menyela mu, namun bersih atas cela, dan nyaris kau ceritakan dengan awalan kala. Dan kadang jumpa memang tak sebegitu terasa layaknya hela nafasmu yang tersedia setiap saat; dan melingkup meluruh seluruh masa.

Namun jumpa adalah jumpa.

Seraya jumpa yang tersedia, dan mungkin disengaja, sebelumnya selalu ketidaksengajaan. Seberapapun koefisien jumpa tersebut menjadi tolak ukurnya, dan mungkinnya, secara jamak, jumpa memang selalu menempati tempat teratas yang sedap tuk disimak. Menyimak akan jumpa yang bergejolak, berharap salah satu pasangan tak tersedak dengan lautan dahak kemungkinan dalam kejadian jumpa yang meledak-ledak.

Lalu diakhir jumpa hanyalah sebuah jalan dalam jalan tak berseparator; dan menjadi kurator dalam laju kisah narator penyimak agung kalian yang teledor.

Teledor akan jumpa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s