Tikus Gotku yang Buntung Ekornya

Kulihat mangga arumanis yang baru kubeli kemarin telah jatuh dari meja dapur. Terlihat beberapa koyakan kasar hingga menembus bijinya.

Mangga ini kesukaanku. Ku tahu pelakunya. Pastilah.

Pasti si tikus got yang kupelihara. Karena setelah menyusup ke rumah ini, ia tidak pernah keluar lagi. Apa karena itu kusebut binatang peliharaan?

Tikusku tak pernah kuurus. Aku dan dia sama sekali tidak mengenal. Ia hanya suka keluar saat ku keluar. Ia selalu takut tuk menghampiriku. Bau mayat, katanya.

Terakhir kali kami bertemu adalah saat ku tak sengaja pulang ke rumah diluar waktu ku biasa pulang. Jam dua belas malam. Tepat. Yap, jam dua belas malam tepat. Saat itu kulihat ia sedang mencoba tuk mengambil sisa pizza yang kubeli tadi sore untuk kumakan lagi sebagai sarapan ketika ku pulang bekerja. Kukesal melihatnya. Kutarik ia dari sisi meja. Tanpa mendengar satu patah kata maaf yang keluar, ku potong ekornya dengan pisau yang selalu kubawa. Karena jika ku tak membawa pisau, aku takkan bisa bekerja bukan? Ia pun meronta dan akhirnya lepas dari peganganku, pergi entah kemana menuju sudut dapur yang temaram.

Lain kali ku potong saja kepalamu.

Saat itu, mangga arumanis ku tinggal satu. Kutaruh saja di dalam lemari agar ia tidak bisa mengambil seenaknya. Kutaruh mangga itu bersebelahan dengan apel Washington yang kudapat dari dapur orang lain ketika ku bekerja. Entah apa yang membuatku ingin mengambil apel mahal ini. Anggap saja oleh-oleh, atau gaji yang kudapat dari ku bekerja. Kusuka warna apel ini. Merah. Membuatku selalu bersemangat bekerja. Kututup lemariku, dan tidak lupa ku berteriak di dapur agar ia tahu. Jangan coba-coba mengambil apa yang ada di lemari dapur, kalau tidak, kepalamu yang hilang kali ini.

Suatu hari, pekerjaan malamku sedikit repot tuk dilakukan. Klien ku bawel, kutawarkan peluang menarik, tapi ia menolak dengan kasar. Apa boleh buat, ia tak kuberi potongan harga. Karena itu, pulang bekerja ku langsung mandi dan mengganti pisau baru. Bau mayat, katanya begitu. Dari pada ia meninggalkan rumah ini. Siapa lagi yang bisa menggantikannya bersembunyi di dapur menunggu kepalanya hilang?

Menyenangkan rasanya sehabis mandi. Walaupun lantai ubinnya sudah tidak enak lagi dipandang. Pertama kali ku ganti ubin kamar mandi menjadi warna putih, ia sering ada di balik pintu kamar mandi. Kutahu dari suaranya, habis kau mandi, aku ingin minum. Lama-kelamaan, ubin putihku memudar. Lebih tepat memerah. Semakin sering kubekerja, ia semakin malas minum, dan untuk memuaskan dahaganya, ia lebih suka air wastafel, di sebelah tumpukan pisau yang kupakai bekerja.

Aneh.

Bukannya pisau itu lebih bau dibanding badanku ini? Bau mayat, itu katanya ketika kutanya alasan mengapa ia meminum air dari wastafel sekarang.

Aku masih hidup. Ia membenciku.

Hingga ujungnya, bukanlah aku yang mengahantuinya. Ia yang menghantuiku. Mungkin karena ekornya. Ia dendam karena ekornya diambil oleh manusia sepertiku. Mungkin dalam dunia tikus, kehilangan ekor sama saja dengan kehilangan status dirinya dalam lingkungannya. Oleh karena itulah, ia tidak pernah keluar dari rumahku. Selalu menghantuiku. Hingga hari ini.

Hari dimana kusembunyikan mangga arumanis di dalam lemari dapurku.

Ia pergi.

Setidaknya ia meninggalkan pesan bahwa ia pergi.

Kenop pintu dapur, terkoyak juga. Menandakan ia telah keluar.

Aku sedih.

Apakah karena pekerjaanku hari ini terasa sedikit berlebihan dari sebelumnya?

Apa karena hingga kini, aku tidak bisa menggantikan kecacatan-nya. Dan membayar hutang ekornya yang hilang? Ugh, aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Kemana ia saat aku tidak membutuhkannya tuk kuambil kepalanya? Aku tahu aku salah. Aku tahu aku yang memenggal ekormu, dan kuancam dirimu sebelumnya. Aku minta maaf pada apa yang tidak kulihat.

Tikus got ku…

Keesokan harinya, aku berhenti bekerja dulu. Bau mayat. Dilanjutkan keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi.

Sudah tiga hari aku tidak bekerja. Surat kabar yang kubaca sudah tidak menceritakan tentang mayat. Kepala polisi kota ku pun, sudah tidak membicarakanku lagi. Sampai babi berpangkat dan berseragam coklat sudah tidak ada yang menggangguku lagi.

Pernah suatu hari, dua ekor babi menggangguku bekerja. Gara-gara mereka klienku lari. Sehingga merekalah yang kuberi tawaran menarik saat itu. Lumayan. Dua minggu setelahnya, kubekerja menggunakan pistol. Bising, tapi membantuku supaya tidak bau. Bau mayat, katanya.

Akhirnya, setelah berhari-hari tidak bekerja, ia datang.

Tanpa mengucap sepatah salam, ia berlalu didepanku. Mengambil apel di lemari. Dan memakannya di depanku dengan senyum hina.

Kau tidak bekerja, katanya.

Tumben, katanya lagi.

Kutidak menjawab.

Ku bergegas ke dapur, mengambil pisau terbaik tuk menyambutnya. Hati ini senang ia pulang, tapi ia melanggar janji. Ia mengambil apel di dalam lemari.

Ia melawanku. Ia tidak membenciku lagi.

Aku membencinya.

Kuhampiri ia dengan tenang. Kuelus kepalanya. Ia tidak heran dibuatnya. Aku sudah tidak bau lagi soalnya. Bau mayat. Ku baringkan dia dengan paksa selanjutnya. Ia meronta, apelku jatuh, sudah empat gigitan dibuatnya. Sial. Bekas gigitan membuatku semakin membencinya. Kutahan ia agar tidak meronta. Kudongakkan kepalanya keatas. Ku taruh pisau dingin di dekat tenggorokannya. Betapa beruntungnya kau, pikirku. Ia pun menangis, meronta, dan meringis panik. Sama dengan para mereka. Kupuji ia, hebat. Seekor tikus yang menyerupai mereka. Hebat. Seekor tikus yang membenciku. Seekor tikus yang menghantuiku. Seekor tikus yang mengingatkanku sebegitu baunya aku. Bau mayat. Hebat.

Sambil memuji, kuiris pelan-pelan lehernya hingga terbentuk suatu garis, dan perlahan merembes mengeluarkan darah merah. Semakin lama semakin dalam. Kutak mau terburu-buru. Kuiris pelan-pelan agar ia tahu, agar ia jera.

Untuk menghilangkan penderitaanya, kuceritakan dongeng kepahlawanan tentang setan yang menantang tuhan, lalu dibuang ia ke dunia, dan karena sifat patriotisme-nya, kita hidup dengan setan, bukan dengan tuhan.

Ia semakin terlihat menderita. Aliran darah semakin membasahi lenganku. Ia semakin kehilangan kesadaran. Lantunan perkataan maaf mangalun dari mulutnya yang kecil, kukecup mulut kecilnya, kutanamkan gigiku, kukunyah pelan-pelan. Rasanya sedikit berbeda dibandingkan saatku bekerja, setidaknya ini lebih mudah, tapi lebih kecil. Apa boleh buat. Aku lapar. Maka ku bekerja dirumah sekarang.

Setelah ku bekerja di rumah. Ada yang terasa hilang dipikiranku. Tidak ada yang mengingatkanku kali ini. Untuk mandi ketika habis bekerja, kalo tidak nanti bau. Bau mayat. Tapi kali ini mayat tikus.

Tikus got ku yang buntung ekornya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s