Manifesto Sejak 2009

Ia adalah algoritma dalam kalkulus koma dan nada yang berpola aksara, berulang-ulang hingga tak terhingga. Ia sangat menyenangi dirinya sendiri seolah tak pernah berhenti bermain sepatu roda di jalanan bebas hambatan yang tak berujung, terlapisi oleh margarin sehingga licin jalannya… Oh, sungguh enak ketika jatuh ia masih merasa gurih dan tak mau berhenti lagi.

Ia sedemikian menyukai definisi atas suatu definisi penggalan kata dan menjadi pejuang kemerdekaan yang hakiki dalam mempertahankan makna. Hingga seseorang, bahkan itu adalah dirinya sendiri, memanggilnya serdadu makna yang gagah berani; setidaknya, ia mendifinisikan berani dalam tataran pertarungannya dengan makna dirinya.

Ia tak suka terkekang dalam alam. Sehingga mencari kurungan untuk mengekang adalah tujuan hidup di kehidupannya yang berlangsung cepat dan berbahaya; layaknya mencuri recehan dari celengan semar adik kesayanganmu.

Ia mencinta ciptaan atas tuhan yang didefiniskannya. Hingga menyadari sebuah cerberus memang terpelihara sebagai avatar hidupnya. Lalu, apakah ia juga anjing berkepala (bermuka) tiga? Mungkin hydra lebih cocok, karena medusa susah sekali diajak berkenalan. Lebih baik ia menggambar kotoran sapi dari lelehan emas dan platina imajimu.

Lalu siapakah siapa kalau ditanya atas apa hanya menjawab kemana arah jawaban? Karena jawaban ada dimana, dimana jawaban telah menunggu arah dari bagaimana menggapai arti apa?

Ia sering berbohong atas suatu kebohongan yang manis, menganggap lebih baik mengumbar granat berlapis karamel, daripada membungkus permen dengan kotoran babi tergemuk dan terkumuh.

Kadang-kadang memang memilukan atas apa yang ia artikan. Karena kadang-kadang artinya, tidak sering ia dikhianati oleh kadangkala, memandang kala di senja menunggu malam tiba, dan matahari datang bagai sebuah siklus pohon yggdrasil yang abadi.

Ia ingin abadi, namun tetap menjadi presisi; atas bumi, atas naluri, atas memori, atas kalian yang akan mengenang semua artikulasi dari tatanan nadiku. Dan pembuluhnya adalah saluran transportasi intuisi kemana ia akan bergerak selanjutnya.

Hei, lihat! Ia mengendarai sepeda.

Hingga sekarang ia adalah seorang gelandangan. Menggelandang tanpa rumah dan tanpa bantal yang ia rindukan. Kapuk yang harapkan untuk tidak sengaja masuk ke lapisan bronkitisnya, dan meracuninya sehingga ia dapat bercerai dengan nikotinia.

Walaupun ia memiliki karib spesies di geografis dunianya, ia merasa itu hanya pelengkap. Entah malas atau merasa seperti che guevara yang lebih suka memakai topi baret, ia lebih sering menggelandang. Layak gelandangan tanpa acuan ilmiah makna. Mengilmiahkan dan mengacukan sebuah pemaknaan adalah upacara kematian baginya.

Dan ia sedih. Sedih atas manusia yang mengacu pada manusia lain, jikalau mereka dapat teracu, maka lebih cepatlah jantung mereka; otak mereka, darah mereka, berdetak berdegup pacu di lintasan pacu kehidupan.

Ia sering sekali bersapa dengan tuhan. Walaupun ia sendiri tak tahu tuhan itu tinggal dimana, tapi ia tahu secara administratif, ia adalah warga dari tuhan… Hai, Pak RT. Walau lama-kelamaan ia mencintai gaya kepemimpinan Pak RT yang dapat berbeda versi ke setiap blok, ia tetap mau menjadi panitia lomba tujuh belasan di lapangan dekat rumah.

Oh iya, ia tak punya rumah, semua orang tak punya rumah, begitu katanya.

Sekarang ia melihat telinga yang mendengar mata, sebelum kulit mengucap kata mulut yang merasa. “Biar tak salah ucap”, katanya… Loh, aneh.

Biarlah, toh memukul orang lebih terasa menyakitkan ketika memakai botol kecap di genggaman, dan bukan bertahan dengan menelan kecap tiga kali sehari sehabis makan. Dihabiskan, kata dokter.

Terus, kapan ia akan tidur? “Nanti”, katanya.

Nanti Anti bisa bangun menyuruh Anto, temannya ia juga yang merasa. Tapi Anto tak mampu merasa, karena Anto itu tepung terigu, sulit berkomunikasi; itu gagu.

Sampai sekarang ia suka memakai helm full-print berpola aksara dan meminum sejumput cairan adiksi berwarna-warni sebagai impuls untuknya meminta-minta ampul(s). Karena ampulnya banyak, jadi pakai es, tapi kalau es langsung kena gigi sehabis makan kembang tahu, pasti jadi ngilu.

Biarlah ia tak dapat menyanyi, toh ia seorang jurnalis yang berdendang dalam irama tuts tak bertanda nada. Layaknya piano elektik ataupun gitar berdawai pembuluh vena. Karena nadi itu nada, dan ketika dibuka menjadi darah getah namun getir. Bernyanyi dalam lantunan wahyu kematiannya, namun merasa lebih hidup dari sebelumnya, biarlah kisah ini ia teruskan, hingga nanti saatnya Pak RT memanggilnya menjadi sekretaris pengurus KTP.

Ia bakal senang karena tidak harus menyiapkan bendera, kerupuk, dan mengapresisasikan diri dalam lomba puisi di lapangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s