Woodstock: Bagian II dari II

Lalu dipertanyakan jalinan nadi tuhannya.
Lalu dipermainkanlah lantunan takdirnya.

Dan sampai aku mual dan menghina pemberiannya dengan memberi beragam muntahan.
Muntahan nan tertepi dari rasa muaknya atas jawaban yang tak dipertanyakan.

Apa diriku berada di sini bermain dengan siapa?

Lalu jika pada dasarnya semua manusia memberikan tujuan atas pencarian sebuah jawaban, lalu untuk apa tujuanku menemaninya?

Siapa yang harus aku tanya, bahkan penciptaku tak menganggapku sebuah karya, melainkan tumpukan asumsi atas sebuah definisi dari upaya kreasi.
Akulah kreasi atas sebuah aksi yang tak bertumpu pada baris rasio moralitas dan sebuah permainan dari penciptaku yang gemar memperkosa jiwa-jiwa tak berpresisi.

Untai urai penuh kasih mengiris-iris kelopak mataku, berupaya melihat kemana jalan selanjutnya membawaku.
Membawaku melihat susunan alur rajut nadi yang menyelimuti seluruh dinding duniaku.
Maka sebuah pencipta datang menciptakan tujuanku tercipta di dunia penuh balutan pernis sebagai citra dalam setiap derik lirik yang berbuah keputusasaan.

Keluarkan aku hingga kedua kalinya.

Aku telah keluar, keluar didalam.
Bahkan, dalamnya luar rongga nadiku terbelunggu tak aku sadari jika telah keluar. Setidaknya untuk sekali saja.
Maka aku ingin lepas dari nadinya, melukis dunia kecilku dengan semua cairan kehidupan yang ia alirkan ke inginku.
Inginnya aku meratapi luar yang lebih luas.

Terpaksa aku menangis hingga terkelupas kelopak mataku, tersedu hingga terkoyak batang leherku, dan meratap lurus ke atas atap hingga pandang menghitam pedih karena tidak ada pilu lain selain tak bisa menatap langit.

Inilah sebuah prosa kehidupan bagiku yang merasa dihidupkan.
Klasifikasi hidup yang tak semestinya ia bilang hidup.
Karena jiwa sang pencipta pun telah redup.
Redup karena aku hidup untuk melihat yang lain hidup.
Redup karena aku tak mati melihat orang lain mengartikan dirinya sebagai representasi dari sebuah kematian.

Ciptanya semakin memberontak, meronta kuat dan memeluk kesadaran yang terendah dalam dirinya yang tinggi. Tinggi oleh kuasa bawah sadarnya yang menghakiminya berkali-kali. Disetiap jerit dan sengguknya, menjalar disemua batin memberatkan pundaknya.

Dan keluarlah aku keluar.

Advertisements

Woodstock: Bagian I dari II

Tali pusarku bercabang sampai ke lengan dan tengkuk; terhubung oleh goresan tulisan tinta hasil tarian lengan sebagai registrasi janin rahim duniaku.

Aku tak pernah berharap untuk terlahir. Saat terlahir pun, mencoba untuk berharap itu sesulit kalian melepaskan diri dari semua jeratan tali pusar yang menjulur liar – menganga merekah – menanggalkan jejak darah kering dari rahim ibu.

Kalian tidak menyebutku si manusia pusar. Malahan, akulah spesimen dari susunan berlapis dan berbau pernis. Karena itu kuberpikir keras mengapa aku tak mempunyai sesuatu yang hakiki dan beresensi yang disebabkan – dan berakibat aku disini?

Kalau tuhan mampu mencipta jiwa, maka aku terbuat dari apa?

Senyawa semata kah dari seorang yang dibutakan pandangnya hingga memberi nyawa pada apa yang dilihat pertama kali olehnya?

Arsitektur anatomiku sangatlah menjijikan. Aku dipenuhi ulir yang mengular tapi tak licin menjalar. Menyebabkanku sulit mengendap, apalagi menyadap jika ingin licik hati ini berucap.

Muara pelik pun adalah karunia bagiku, dan praduga berbulir emosi tak bersisi telah terakuisisi untukku.

Sampai semuanya kuukir dalam perutku.

Dan memang harus kuukir.

Ini telingaku, kubotaki seperti kepalaku.
Ini rambutku, kupelintir dan kuukir seperti hidungku.
Ini hidungku, kuanyam layaknya jalinan nadiku; dialiri lagumu, biramamu, dan semua empatimu.
Ini salahmu atas benarnya diriku.

Sebuah beban yang tertuang di tengkukmu menyeruak dari sela semua ruas tulang belakangmu. Dari sela seluruh sisip jaringan kelenjarmu. Dan dari semua lipat kulitmu yang berkeringat.

Semua pahat, palu, dan alat pengulirmu adalah penyambung semua bulir peluhmu yang mengaduh pada siapa kau meminta dan menawar.

Akulah barang dagangmu, jauh dari barang hasil hasta karya tuhan. Bahkan hidupku pun diperkosa oleh makna hidup bagi yang telah hidup sebelum aku sendiri.

Sampai tak ada lagi alunan birama untukku.
Jalinan ketukan hak sepatumu mengiringi detak nafasku.
Dan tarian jemarimu menuntun pola hidupku.

Sekarang semua adalah anugerah yang tercetak layaknya tato di dahi yang buruk rupa.
Menyakitkan, memalukan, dan bertahan sampai piringan besi selesai dipanaskan.

Lalu semua kenisbian yang sia-sia ini… Hei, apa itu arti nisbi?

Yasudahlah, toh, aku tak pernah berfikir untuk menyekolahkan diri.

Semakin aku tahu, semakin aku tidak tahu siapa aku.

Hingga ia membelikanku sebuah peta ilmu, nalarku pun melaju seiring ditujunya mata arah pengetahuan.

Beginilah seharusnya aransemen nafas kehidupan. Susunan notasi dari detak gerak jiwa yang beritma. Dan rangkaian ide beralas silikon yang berbentuk menjadi idealnya sebuah makna konteks penciptaan.

Aku ini karya, aku ini cipta, aku ini berkarya karena adanya cipta dari pencipta yang dicipta.

Hei, kamu si pemberi jiwa dari nyawamu.

Biarkan saya melaju keluar rumah.

Kepada Para Penyintas Moralitas

Ayo kita ke sawah, dimana semua petani sedang memanen sabit berbalut benci.
Ayo kita ke pabrik, dimana semua buruh sedang menyusun palu berkepala geram.

Tuhan, menurut mereka adalah suatu rasio nominal, dan media substitusi yang berdiferensial seperti nanah yang tertahan dibalik jaringan kulitmu.

Jangan sampai terlepas, karenanya bakal bau.

Tengik dan sirik selalu berdampingan dalam pelaminan yang berhiaskan usus unggas dan ternak.
Jika semua tak lagi mempunyai engsel di leher untuk melihat apa yang ada dibawah, apa yang mereka injak, apa yang mereka tapaki, apa yang mereka pijak dan ajak, apa bedanya mereka dari barisan unggas dan ternak yang hanya mengikuti jejak tuk beranak-pinak?

Karenanya mereka, para konsumen terbaik dari kaum pasar yang berlantai paling tinggi, hanya melihat pola ubin dan lapisan demi lapisan dibawahnya.

Dimana dasar dapat ditemui? Mereka dengan nyamannya menutupi diri dengan kanopi obligasi dan sebuah terpal investasi yang takkan pernah lolos amdal.

Bariskan mereka dalam sebuah eskalator, lift, dan tangga berundak. Mereka adalah manusia keji tak berpundak dan menyanggah diafragma mereka dengan sebuah garpu makan yang dijahit oleh alang-alang berhama dan memicu rasa gatal hingga tenggorokan.

Dibungkus dengan tenun yang direndam dalam kopi dan dihias oleh sulur-sulur berbuah tomat.
Hingga sampai pada suatu titik dimana ia menjadi seorang individu yang tak pernah mengadu.

Karena bagi mereka, otaknya adalah nilai satuan saham, dan jalinan darah adalah minyak mentah bernilai jutaan yang menentukan arah. Dan bahkan menjadi sebuah pengganti sapi perah yang marah karena susunya tak lagi diperah. Dan sekarang hanya melenguh, “ah, ah, ah,ah” seolah terlibat disetubuhi oleh-nya.

Kasihan, karenanya ia tidak mampu berkarya, serasa menjadi sebuah mahakarya, namun tak dapat menuai rasa percaya untuk mengurasinya.

Kasihan, karena semua peluh, dan semua lelah hanya ada melukiskan muka para pahlawan. Dan bukan menjadi pahlawan.

Kasihan, karena ia mengganti makna pangan menjadi sebuah cita-cita angan. Dan yang nyata baginya adalah sebuah visi dari dalam mata yang terjahit di usus besarnya; melihat proses cerna kotoran dan lendir yang tak dikenal melaluinya.

Karena itulah sebuah penghukuman, dan sebuah pengadilan yang tak adil baginya, ada bukan karena apa yang dapat ia di bagikan. Padahal, ia sendiri tidak pernah berbagi; makanya, angka 9 itu dapat dibagi 3 menjadi 3. Dan sampai sekarang ia tidak tahu apa itu angka yang ketiga setelah dibagi karenanya!!

Tertawalah aku karena yang ia tahu hanya nol. Sebuah anulir atas kuantitas yang sekedar mampir.

Nihilis adalah kata yang tersablon di depan kausnya, dan realis adalah sebuah tato dalam tubuhnya.

Sampai mereka mencabut semua helai alisnya. Menyambungnya, menutup dengan mulutnya yang selalu berliur. Memakan kertas berwarna hijau, dan menjadi perwujudan kambing bertanduk dan berjanggut. Sampai nyawanya direnggut.

Ini adalah susunan prosa atas ketidaktahuan kami.
Atas ketidak pedulian kami.
Atas ketidakmauan kami.
Atas keegoisan kami, yang sampai sekarang tidak mau memberi dan hanya menunggu untuk dibagi.

Atas nama seluruh petani sabit dan pengerajin palu,
saya ucapkan selamat berlalu.

Segala yang Mati di Lintasan, Tanpa Banyak Alasan.

Aku tak pernah berteman dengan waktu.
Karena seluruh detik mengutukku dengan segala delik.
Bahkan, semua tahu aku hanya punya sebuah mesin tik.
Yang mengusik, mengetik susunan menit dalam satuan jam-mu.

Apa itu detak, kalau semua berpacu dalam petak?
Seolah memetakan resolusiku tanpa melihat topografi keberhasilanku?
Maka buatlah jantungku dapat bernafas, dan paru-paruku kebanjiran darah.
Maka jadikanlah tanganku berdansa dengan kedua kakiku yang terkulai terkilir.

Semua bukan terserah padaku.
Karena tidak ada acara serah terima dalam lintasan.
Lintas semu yang memacu kencang para pengadu ilmu.
Kepada mereka yang terbuai, tersedak dengan bubur kertas penuh makna dari sang mempelai.

Aku tidak meminta perpanjangan lenganmu.
Aku tidak meminta sandaran punggungmu.
Aku tidak memulai akhir dari sebuah nafas panjang.
Aku tidak mengakhiri awal dari sebuah momentum gerakan yang pendek.

Aku ada untuk bermasturbasi dengan setiap detik.
Kamu ada untuk membelikan menit sebuah kondom.
Mereka ada untuk membuahi putaran jam dengan penuh birahi.
Dan semua orang akan ada untuk mengutuk waktu dengan aku.

Aku dan Sembilan Belas

Aku adalah algoritma dalam kalkulus koma, dan nada berpola aksara yang serupa dan diulang-ulang hingga tak terhingga. Aku menyenangi diri yang tak pernah berhenti bermain sepatu roda di jalanan bebas hambatan yang tak berujung, dan terlapisi oleh margarin sehingga licin jalannya… Oh, sungguh enak ketika jatuh, aku akan merasa gurih dan tak mau berhenti lagi.

Aku menyukai definisi atas penggalan kata definitif dan menjadi pejuang kemerdekaan atas hakikinya mempertahankan makna; hingga orang lain, bahkan dirinya sendiri memanggilnya serdadu makna yang gagah berani. Setidaknya, aku mendifinisikan berani dalam tataran pertarungannya dengan makna diri. Aku tak suka terkekang dalam lingkup alam. Sehingga mencari kurungan untuk mengekang diri adalah tujuan hidupku di kehidupan yang berlangsung cepat dan berbahaya – layaknya mencuri recehan dari celengan semar adik kesayangan.

Aku mencintai ciptaan atas tuhan yang terdeskripsikan. Aku menyadari sebuah Cerberus memang terpelihara sebagai avatar hidupku. Lalu, apakah saya ini juga sebuah Cerberus? Mungkin Hydra lebih tepat, karena Medusa susah sekali diajak berkenalan, sehingga aku lebih baik menggambar kotoran sapi dari lelehan emas dan platina imajimu.

Lalu siapakah siapa kalau ditanya atas apa, dan hanya menjawab kemana arah jawaban?

Karena jawaban ada dimana. Dimana jawaban telah menunggu arah dari bagaimana menggapai arti sebuah tanya.

Aku sering berbohong atas suatu kebohongan yang manis. Aku menganggap, lebih baik mengumbar granat berlapis karamel daripada membungkus permen dengan kotoran babi tergemuk dan terkumuh. Kadang-kadang, memang memilukan atas apa yang aku artikan. Karena kadang-kadang, artinya tidak sering aku dikhianati oleh kadangkala… Yang memandang kala di senja, sembari menunggu malam tiba dan akhirnya matahari datang bagai sebuah siklus pohon Yggdrasil yang abadi.

Aku ingin abadi, namun tetap dalam presisi. Atas bumi, atas naluri, atas memori, atas kalian yang akan mengenang semua artikulasi dari tatanan nadiku. Tatanan dengan pembuluh dalam saluran transportasi yang memiliki intuisi kemana aku akan bergerak selanjuutnya.

Hei, lihat, aku mengendarai sepeda.

Hingga sekarang aku adalah seorang gelandangan. Menggelandang tanpa rumah dan tanpa bantal yang dirindukan, kapuk yang diharapkan untuk tidak sengaja masuk ke lapisan bronkitisku, dan meracuniku sehingga aku dapat bercerai dengan nikotinia.

Walaupun aku memiliki karib spesies di geografis dunianya, aku merasa itu hanyasebuah pelengkap. Entah malas, atau merasa seperti Che Guevara yang lebih suka memakai topi trucker, aku lebih sering menjadi gelandangan revolusioner tanpa acuan ilmiah makna. Mengilmiahkan, dan mengacukan sebuah pemaknaan adalah upacara kematian bagiku. Dan aku sedih… Sedih atas manusia yang mengacu pada manusia lain. Jikalau mereka dapat teracu, maka lebih cepatlah jantung mereka, otak mereka, darah mereka, yang berdetak berdegup pacu di lintasan pacu kehidupan.

Aku sering sekali bersapa dengan tuhan. Walau aku tak tahu tuhan itu tinggal dimana, tapi aku tahu secara administratif, aku merupakan warga dari tuhanku… Oh, hai pak RT. Tak terasa, lama-lama aku mencintai gaya kepemimpinan pak RT yang dapat berbeda versi ke setiap blok di komplek tersebut. Sehingga aku tetap mau menjadi panitia lomba tujuh belasan di lapangan dekat rumah. Biar tidak bosan, menurutku.

Oh iya, aku tak punya rumah, bahkan semua orang tak punya rumah, begitu pikirku.

Sekarang, aku melihat telinga yang mendengar mata. Sebelum kulit mengucap kata, mulut yang merasa. Biar tak salah ucap katanya, loh, aneh. Biarlah… Toh, memukul orang dengan memakai botol kecap di genggaman akan lebih terasa menyakitkan dibanding bertahan dengan menelan kecap 3 kali sehari sehabis makan… Dihabiskan, kata dokter.

Terus kapan aku akan tidur? Nanti, kataku, nanti… Nanti Anti bisa bangun menyuruh Anto, temanku juga yang merasa. Tapi Anto tak mampu merasa, karena ia itu tepung terigu, sulit berkomunikasi… Oh, itu gagu.

Hingga sekarang, aku suka memakai helm full-print berpola aksara dan meminum sejumput cairan adiksi berwarna-warni sebagai impuls meminta-minta ampuls. Karena ampulnya banyak, jadi pakai es, tapi kalau es langsung kena gigi sehabis makan kembang tahu, pasti jadi ngilu.

Biarlah aku tak dapat menyanyi. Toh, aku seorang jurnalis yang bernyanyi dalam irama tuts tak bertanda nada layaknya piano elektik, ataupun gitar berdawai pembuluh vena. Karena nadi itu nada, dan ketika dibuka menuang getah darah nan getir. Hingga alirannya menlantun dan bernyanyi dalam irama wahyu kematiannya, namun merasa lebih hidup dari sebelumnya.

Biarlah kisah ini aku teruskan, hingga nanti saatnya pak RT menggilnya menjadi sekretaris desa pengurus KTP, aku bakal senang karena tidak harus menyiapkan bendera, kerupuk, dan mengapresisasikan diri dalam lomba puisi di lapangan.

/Disadur dari tanggal 19, 8 tahun yang lalu.

Doa Tengah Tahun

Katanya kita harus ikhlas.

…Lalu sabar; harus sabar walau lelah mengejar, dan juga dikejar.

Karena kita berada di antara tebing terjal nan gersang, menunggu pelita memulai cerita di pagi buta.

Jangan sampai kita berada dalam sudut mati tertajam dan tergelap saat gulita ada; yang mau tak mau membuat kita geram hingga terpejam.

Berjalanlah tenang dalam jalur yang dapat kau kenang.

Di sana, ada ujung yang memberi dan menyambung.
Di sana, ada yang menunggu dan lebih membutuhkan.
Di sana, ada yang mengadah, dan tak harap tuk selesai begitu saja.

Hingga nanti kau tiba di titik iba yang berada.

Di sini, ada yang berlebihan tuk memberi, namun tak selalu meminta tuk memberitahu dirinya agar kembali.
Di sini, ada yang kekurangan tuk disadari, namun selalu, dan pasti merasa berkecukupan tuk memberitahu dirinya agar tak usah lagi membeli.

Di sini.

Wiracarita Nikotinia

Aku adalah puntung rokok yang berbekas buntung.
Bermandikan abu atas nyawaku dan nikotin pada jiwaku.
Terselubung pita emas dan lantunan kenikmatan penuh sarkas.

Aku adalah kematian yang terasa sangat indah dalam laju titian.

Hari ini aku berada didalam sebuah asbak melamin yang terkotori dan tersiangi nikotin; menguning – menyaring seluruh adabku, dan menggumpalkan seluruh manifestasi tujuanku di dunia.

Aku adalah puntung rokok yang bermandikan ketiadaan. Ketiadaan atas guna, dan kehadiran atas fungsi lain; untuk dimatikan… Dimatikan saja, seakan hanyalah itu maknaku berada sebelum menjadi puntung yang beruntung masih panjang dan agung.

Aku hadir untuk matimu, dan aku mati untuk hadirku selanjutnya.

Aku adalah puntung rokok yang bersetubuhkan deposit. Jangka bunga panjang atas ke-adiksianmu – atas keinginan nalurimu; digerakkan, didorong, dan dijiwai sepenuhnya dalam seluruh tarikan nafasmu. Karena ketika aku hidup, adalah ketika waktu berjalan mundur menghabisiku, mengumpaniku dengan batas dan tanpa kenal balas… Matilah sudah, aku ingin mati secepatnya.

Ditekuk, dan diacuhkan atas kegunaanku untuk dimatikan, aku berseloroh tentang sebuah ciptaan yang mengagumkan; menutur keterikatanku, kesungguhanku, mengobatimu dengan sebuah bala. Menghakimimu dengan segala upaya; diluar batas moral, disemua tingkat nalar, akulah penggerak hidupmu. Hitung aku atas kuantitasku yang telah mengurai seribu tahun lagi.

Aku berada di dalam tingkatan terendah seluruh makna ketiadaan yang kau sanggah. Mungkin bagimu, jiwa ini hanyalah sebuah media balas dendam atas perilaku yang kau idam-idamkan.

Mungkin kau banggakan; mungkin kau silahkan saja dihidupkan.

Aku berdenyut pada detak jantungmu, aku pelumas pada segenap aliran selmu, aku jalan tol di koloni impuls syaraf mu, aku logika tambahan atas pilihan-pilihan asumsimu yang tak bisa disimpulkan dengan tataran pembacaan makna.

Akulah wacana yang paling nyata atas bencana. Sudah berulang kali kubahas, tapi akulah simbol kematian yang sudah mati; dan ketika ku hidup, aku berkampanye pasif atas bentuk pencabutan nyawa yang paling permisif, paling reaktif, dan tentunya adiktif.

Akulah yang tidak bisa kau tolak untuk kembali dihadirkan, kembali dihidupkan; seolah-olah, aku adalah pangan abadi yang membuatmu terkelu-kelu sejadi-jadinya. Seolah-olah, aku adalah mumi siap balsem, dan jenglot siap ciut.

Akulah kematian, akulah keindahan, dan akulah malapetaka pada seluruh jika dan seandainya kala telah datang, akulah yang tidak ada disisnya namun kau.

Aku bentuk tindak tanduk tanggung jawab yang kau anut dan sembah. Aku yang menjawabnya, namun kau yang menanggungnya. Akulah bentuk substitusi anarki pada ketidakberdayaan demografismu, yang mengindahkan seluruh teori jual-beli. Akulah komoditi kematian yang akan selalu hidup – hidup diatas tembang dan lantun orbituari di muka nisan kalian. Dan aku merangkak, menyeruak dengan paksa di tumpukan jasad busuk menghitam legam kalian.

Maka jangan salahkan aku atas kebersalahan, namun puji puja aku atas segala keberhasilan. Menjadikan makna kematian sebagai suatu kata yang tegas sejati menggambarkannya. Karena kalian adalah aku, si puntung rokok yang beruntung telah lebih dulu mati dibandingkan kalian para jasad organisme hidup yang bertahan hidup dengan menghirup kematian.

Dengan meracuni kematian, dan mencurangi keabadian.

Tapi tanpaku, kalian akan terus hidup dan lupa akan akhir sujud. Mengidahkan segala bentuk dan wujud, menggurat dusta atas semua yang kalian anut, dan mengurut daftar nabi-nabi yang telah siap diganti karena usia yang lanjut.

Aku puntung rokok berbekas balas atas nafas.
Mengaliri lirih dengan perih.
Namun tak terdengar, namun tak tersiar.
Aku puntung rokok berbalut kesejatian atas kematian.

Kematian kalian yang layak kunikmati pada lantun batang selanjutnya, dan sekian.