Aku dan Sembilan Belas

Aku adalah algoritma dalam kalkulus koma, dan nada berpola aksara yang serupa dan diulang-ulang hingga tak terhingga. Aku menyenangi diri yang tak pernah berhenti bermain sepatu roda di jalanan bebas hambatan yang tak berujung, dan terlapisi oleh margarin sehingga licin jalannya… Oh, sungguh enak ketika jatuh, aku akan merasa gurih dan tak mau berhenti lagi.

Aku menyukai definisi atas penggalan kata definitif dan menjadi pejuang kemerdekaan atas hakikinya mempertahankan makna; hingga orang lain, bahkan dirinya sendiri memanggilnya serdadu makna yang gagah berani. Setidaknya, aku mendifinisikan berani dalam tataran pertarungannya dengan makna diri. Aku tak suka terkekang dalam lingkup alam. Sehingga mencari kurungan untuk mengekang diri adalah tujuan hidupku di kehidupan yang berlangsung cepat dan berbahaya – layaknya mencuri recehan dari celengan semar adik kesayangan.

Aku mencintai ciptaan atas tuhan yang terdeskripsikan. Aku menyadari sebuah Cerberus memang terpelihara sebagai avatar hidupku. Lalu, apakah saya ini juga sebuah Cerberus? Mungkin Hydra lebih tepat, karena Medusa susah sekali diajak berkenalan, sehingga aku lebih baik menggambar kotoran sapi dari lelehan emas dan platina imajimu.

Lalu siapakah siapa kalau ditanya atas apa, dan hanya menjawab kemana arah jawaban?

Karena jawaban ada dimana. Dimana jawaban telah menunggu arah dari bagaimana menggapai arti sebuah tanya.

Aku sering berbohong atas suatu kebohongan yang manis. Aku menganggap, lebih baik mengumbar granat berlapis karamel daripada membungkus permen dengan kotoran babi tergemuk dan terkumuh. Kadang-kadang, memang memilukan atas apa yang aku artikan. Karena kadang-kadang, artinya tidak sering aku dikhianati oleh kadangkala… Yang memandang kala di senja, sembari menunggu malam tiba dan akhirnya matahari datang bagai sebuah siklus pohon Yggdrasil yang abadi.

Aku ingin abadi, namun tetap dalam presisi. Atas bumi, atas naluri, atas memori, atas kalian yang akan mengenang semua artikulasi dari tatanan nadiku. Tatanan dengan pembuluh dalam saluran transportasi yang memiliki intuisi kemana aku akan bergerak selanjuutnya.

Hei, lihat, aku mengendarai sepeda.

Hingga sekarang aku adalah seorang gelandangan. Menggelandang tanpa rumah dan tanpa bantal yang dirindukan, kapuk yang diharapkan untuk tidak sengaja masuk ke lapisan bronkitisku, dan meracuniku sehingga aku dapat bercerai dengan nikotinia.

Walaupun aku memiliki karib spesies di geografis dunianya, aku merasa itu hanyasebuah pelengkap. Entah malas, atau merasa seperti Che Guevara yang lebih suka memakai topi trucker, aku lebih sering menjadi gelandangan revolusioner tanpa acuan ilmiah makna. Mengilmiahkan, dan mengacukan sebuah pemaknaan adalah upacara kematian bagiku. Dan aku sedih… Sedih atas manusia yang mengacu pada manusia lain. Jikalau mereka dapat teracu, maka lebih cepatlah jantung mereka, otak mereka, darah mereka, yang berdetak berdegup pacu di lintasan pacu kehidupan.

Aku sering sekali bersapa dengan tuhan. Walau aku tak tahu tuhan itu tinggal dimana, tapi aku tahu secara administratif, aku merupakan warga dari tuhanku… Oh, hai pak RT. Tak terasa, lama-lama aku mencintai gaya kepemimpinan pak RT yang dapat berbeda versi ke setiap blok di komplek tersebut. Sehingga aku tetap mau menjadi panitia lomba tujuh belasan di lapangan dekat rumah. Biar tidak bosan, menurutku.

Oh iya, aku tak punya rumah, bahkan semua orang tak punya rumah, begitu pikirku.

Sekarang, aku melihat telinga yang mendengar mata. Sebelum kulit mengucap kata, mulut yang merasa. Biar tak salah ucap katanya, loh, aneh. Biarlah… Toh, memukul orang dengan memakai botol kecap di genggaman akan lebih terasa menyakitkan dibanding bertahan dengan menelan kecap 3 kali sehari sehabis makan… Dihabiskan, kata dokter.

Terus kapan aku akan tidur? Nanti, kataku, nanti… Nanti Anti bisa bangun menyuruh Anto, temanku juga yang merasa. Tapi Anto tak mampu merasa, karena ia itu tepung terigu, sulit berkomunikasi… Oh, itu gagu.

Hingga sekarang, aku suka memakai helm full-print berpola aksara dan meminum sejumput cairan adiksi berwarna-warni sebagai impuls meminta-minta ampuls. Karena ampulnya banyak, jadi pakai es, tapi kalau es langsung kena gigi sehabis makan kembang tahu, pasti jadi ngilu.

Biarlah aku tak dapat menyanyi. Toh, aku seorang jurnalis yang bernyanyi dalam irama tuts tak bertanda nada layaknya piano elektik, ataupun gitar berdawai pembuluh vena. Karena nadi itu nada, dan ketika dibuka menuang getah darah nan getir. Hingga alirannya menlantun dan bernyanyi dalam irama wahyu kematiannya, namun merasa lebih hidup dari sebelumnya.

Biarlah kisah ini aku teruskan, hingga nanti saatnya pak RT menggilnya menjadi sekretaris desa pengurus KTP, aku bakal senang karena tidak harus menyiapkan bendera, kerupuk, dan mengapresisasikan diri dalam lomba puisi di lapangan.

/Disadur dari tanggal 19, 8 tahun yang lalu.

Advertisements

Doa Tengah Tahun

Katanya kita harus ikhlas.

…Lalu sabar; harus sabar walau lelah mengejar, dan juga dikejar.

Karena kita berada di antara tebing terjal nan gersang, menunggu pelita memulai cerita di pagi buta.

Jangan sampai kita berada dalam sudut mati tertajam dan tergelap saat gulita ada; yang mau tak mau membuat kita geram hingga terpejam.

Berjalanlah tenang dalam jalur yang dapat kau kenang.

Di sana, ada ujung yang memberi dan menyambung.
Di sana, ada yang menunggu dan lebih membutuhkan.
Di sana, ada yang mengadah, dan tak harap tuk selesai begitu saja.

Hingga nanti kau tiba di titik iba yang berada.

Di sini, ada yang berlebihan tuk memberi, namun tak selalu meminta tuk memberitahu dirinya agar kembali.
Di sini, ada yang kekurangan tuk disadari, namun selalu, dan pasti merasa berkecukupan tuk memberitahu dirinya agar tak usah lagi membeli.

Di sini.

Wiracarita Nikotinia

Aku adalah puntung rokok yang berbekas buntung.
Bermandikan abu atas nyawaku dan nikotin pada jiwaku.
Terselubung pita emas dan lantunan kenikmatan penuh sarkas.

Aku adalah kematian yang terasa sangat indah dalam laju titian.

Hari ini aku berada didalam sebuah asbak melamin yang terkotori dan tersiangi nikotin; menguning – menyaring seluruh adabku, dan menggumpalkan seluruh manifestasi tujuanku di dunia.

Aku adalah puntung rokok yang bermandikan ketiadaan. Ketiadaan atas guna, dan kehadiran atas fungsi lain; untuk dimatikan… Dimatikan saja, seakan hanyalah itu maknaku berada sebelum menjadi puntung yang beruntung masih panjang dan agung.

Aku hadir untuk matimu, dan aku mati untuk hadirku selanjutnya.

Aku adalah puntung rokok yang bersetubuhkan deposit. Jangka bunga panjang atas ke-adiksianmu – atas keinginan nalurimu; digerakkan, didorong, dan dijiwai sepenuhnya dalam seluruh tarikan nafasmu. Karena ketika aku hidup, adalah ketika waktu berjalan mundur menghabisiku, mengumpaniku dengan batas dan tanpa kenal balas… Matilah sudah, aku ingin mati secepatnya.

Ditekuk, dan diacuhkan atas kegunaanku untuk dimatikan, aku berseloroh tentang sebuah ciptaan yang mengagumkan; menutur keterikatanku, kesungguhanku, mengobatimu dengan sebuah bala. Menghakimimu dengan segala upaya; diluar batas moral, disemua tingkat nalar, akulah penggerak hidupmu. Hitung aku atas kuantitasku yang telah mengurai seribu tahun lagi.

Aku berada di dalam tingkatan terendah seluruh makna ketiadaan yang kau sanggah. Mungkin bagimu, jiwa ini hanyalah sebuah media balas dendam atas perilaku yang kau idam-idamkan.

Mungkin kau banggakan; mungkin kau silahkan saja dihidupkan.

Aku berdenyut pada detak jantungmu, aku pelumas pada segenap aliran selmu, aku jalan tol di koloni impuls syaraf mu, aku logika tambahan atas pilihan-pilihan asumsimu yang tak bisa disimpulkan dengan tataran pembacaan makna.

Akulah wacana yang paling nyata atas bencana. Sudah berulang kali kubahas, tapi akulah simbol kematian yang sudah mati; dan ketika ku hidup, aku berkampanye pasif atas bentuk pencabutan nyawa yang paling permisif, paling reaktif, dan tentunya adiktif.

Akulah yang tidak bisa kau tolak untuk kembali dihadirkan, kembali dihidupkan; seolah-olah, aku adalah pangan abadi yang membuatmu terkelu-kelu sejadi-jadinya. Seolah-olah, aku adalah mumi siap balsem, dan jenglot siap ciut.

Akulah kematian, akulah keindahan, dan akulah malapetaka pada seluruh jika dan seandainya kala telah datang, akulah yang tidak ada disisnya namun kau.

Aku bentuk tindak tanduk tanggung jawab yang kau anut dan sembah. Aku yang menjawabnya, namun kau yang menanggungnya. Akulah bentuk substitusi anarki pada ketidakberdayaan demografismu, yang mengindahkan seluruh teori jual-beli. Akulah komoditi kematian yang akan selalu hidup – hidup diatas tembang dan lantun orbituari di muka nisan kalian. Dan aku merangkak, menyeruak dengan paksa di tumpukan jasad busuk menghitam legam kalian.

Maka jangan salahkan aku atas kebersalahan, namun puji puja aku atas segala keberhasilan. Menjadikan makna kematian sebagai suatu kata yang tegas sejati menggambarkannya. Karena kalian adalah aku, si puntung rokok yang beruntung telah lebih dulu mati dibandingkan kalian para jasad organisme hidup yang bertahan hidup dengan menghirup kematian.

Dengan meracuni kematian, dan mencurangi keabadian.

Tapi tanpaku, kalian akan terus hidup dan lupa akan akhir sujud. Mengidahkan segala bentuk dan wujud, menggurat dusta atas semua yang kalian anut, dan mengurut daftar nabi-nabi yang telah siap diganti karena usia yang lanjut.

Aku puntung rokok berbekas balas atas nafas.
Mengaliri lirih dengan perih.
Namun tak terdengar, namun tak tersiar.
Aku puntung rokok berbalut kesejatian atas kematian.

Kematian kalian yang layak kunikmati pada lantun batang selanjutnya, dan sekian.

Semesta Melata Tak Tertata

Semesta menyajikan segala tanya tanpa jawab yang tak dapat kuterka.
Walau sebagian, maupun penuh, tetap saja tidak ada petunjuk yang dapat mengarahkan kemana aku harus merujuk dan bahkan tunduk.

Karena semesta lebih besar atas sebuah pandang mata, dan barisan tutur kata.

Semesta dengan sengajanya membesar; mungkin dikarenakan kita yang mengecil dan semakin tersasar.
Terbutakan oleh materi, dan tertahan laju beragam komoditi sehingga sulit tuk berlari.

Semesta adalah wadah luar biasa megah atas kehidupan kalian yang tanpa arah.

Semesta adalah akhir tujuan, dan awal pilihan.
Tebang pilih atas naluri-naluri yang tersisihkan.

Aku berada dipinggiran semesta dengan tangan menunjuk ke tengahnya sembari tertunduk.
Menghakimi diri atas fungsiku yang diungsi entah kemana ku harus kutangisi.

Namun tetap saja, tak ada jawab atas arahku, juga arah kalian.
Karena jawab kalian adalah relatif di segala suatu yang nyata di semesta; mengecoh indramu, dan memperdayaimu.

Karena mata yang berbicara, dan telinga yang mendengar segala rasa di hati kalian, hingga kemudian berlarian.

Tuhan saja bimbang, tuhan saja gamang.

Karena tuhan adalah perwujudan kalian, dan semesta adalah siapa saja yang dapat menang dan berada dinyana.

Dan kemudian semesta akan menjemputku kembali, menjadikanku bagiannya yang berkelana tanpa nyali.

Karena aku takut, takut atas keberanianku hidup.
Bunuh saja selagi aku belum bernafas.
Cabut saja kembalikan diriku selagi hubungan interkoneksi atas kedua belah kelamin yang berbeda jenis mulai beraksi.

Padamkan niatnya.

Karena aku tak sanggup hidup atas segala pengetahuanmu, oh semesta yang bersinggungan di dalamku, diluarku, dan denganku.

Pancung dan jangan lupa acungkan tangan ketika hendak bertanya.
Sambung dan selalu ingat tuk terus mengisi lambung dengan seluruh informasi yang akan kau cerna, dan kau resapi segala maknanya.

Ketidaktahuan kalian yang tidak mengtahui adalah sebuah anugerah.
Dan pengetahuan adalah manifestasi atas segala hal terkutuk dan begitu terarah.

Nyata, aku hanya ingin lupa, semesta.

Sangka, Kala.

Kala adalah lantun prasangka yang menutup segala praduga.
Kala adalah laju semesta yang menutup mata dan terjaga.

Kala mendengar dan menggelar – segala kemungkinan yang berkelakar; mengakar, mengidahkan tataran jalar, baik menjalar dan mengusik menggelegar, terus dikejar, namun tetap tertinggal dan tak pernah tersadar.

Sadarkah segala baik dari kalian telah tertutup mesra dengan kepentingan yang jauh lebih menarik?

Menarik semua aspek sebab akibat, dan menjabarkan proses sebuah sistem yang terbelit, tersimpul mati, dan membusuk akibatnya.

Akibat kalian yang berprasangka, menyangka segala terka.
Yang tak pernah kalian duga.

Karena Kala tahu, segala prasangka adalah mendung yang tak terlihat namun terkandung.

Ia tahu prasangka adalah petir tanpa suara namun tetap menyentak lara.

Menyambut duka, tapi tak perlu membuai luka.

Karena segala prasangka adalah sebuah pagar yang melindungi apa yang tak terlihat namun terdengar.

Prasangka adalah taktik mengumpat tanpa emosi, namun tetap menikam empati.

Memberi sajak penuh getir yang tak bersyair.

Lalu segala akar yang mengingkar atas apa yang telah tumbuh dan menjalar, akan terus bersandar pada seluruh wacanamu yang tak akan pernah kelar; terus tertanam, dan terjangkar, lalu membusuk diurai maut dalam sangkar.

Dan Kala tahu kapan kau akan mengurai, segala yang kau tuai, dan pasti kan usai.

Lidah Lidah Belati, Siapa Yang Makan Hati?

Segerombolan pembawa bencana berlarian membawa sabit yang terjepit.
Mereka menebas-nebas gerombolan lain yang berpanjikan wacana berbeda aliran dan membawa celurit.

Lalu mereka saling menuang, menyuling darah di setiap tebasan yang mengarah.
Hingga menjadi membusuk bernanah karena ditinggal tak berguna sudah.

Kasihan yang mati tak memakai usaha padahal membawa senjata serta.
Terpujilah yang menebas dengan usaha karena mereka lebih tajam memaknai derita.

Disaat semua kata telah menyadur derita, disaat senjata telah bersangkur tumpul dan butuh tutur sampul…

Ayo, mari kita mati sajalah dalam sebuah ladang kebaikan yang sejati, daripada membelenggu hidup pada kelayakan yang patut mati.

Derit Benci Yang Tidak Irit

Dan kulihat kalian menggeser makna baik, dan membuatku tertarik – karena apa yang menjadikan kalian layaknya seonggok tahik.

Dalam konteks baik yang kalian lihat, hanyalah sebuah bongkah omong kosong penuh intrik yang menggelitik, dan tak pernah membuatku melirik.

Silakan tuduh aku sirik, namun ku tetap mengumpat dengan jujur dan berisik.
Silakan sidang aku yang tak pantas diundang, namun ku tetap menghadang dengan lantang nan tenang.

Kalian mendefinisikan yang bukan kalian; kalian yang menghakimi diluar persidangan atas kalian – dan diluar kalian.
Kalian memerdekakan diri kalian sendiri atas umpan pekikan, dan perkataan yang memenjerakan yang lain selain kalian.

Dan aku akan menertawakan segala hal yang kalian lebih-lebihkan. Atas manifestasi rasa kemanusiaan kalian dan atas nama komunitas yang tak pantas. Kalianlah sebuah fondasi yang telah basi namun tetap dianggap sebagai asupan pangan yang penuh angan; dan segala hal telah menjadi gurat keriput lubang di lubang anal.

Dan kemudian mulut kalian mengerucut; menunjuk-nunjuk yang lain seolah kalian yang menuntut kebenaran yang patut.
Namun dengan pintarnya, bodohnya kalian menjadikan yang lain menjadi sedemikian lebih pintar dari kalian.

Mengertikah kalian?

Kalian yang tidak sederhana. Kalian yang bersenjatakan bencana berbalut wacana.
Sudahlah, ayo bercanda saja tak perlu sebegitu seriusnya bertanya dan malah tak berguna.

Kasihannya, diluar sana masih banyak yang seperti kalian. Yang menjual nilai dan mengobral norma utopis; menyelenggarakan baazar atas konsep kebanggaan yang semu, dan tetap saja, kalian berkoar-koar tak tahu malu nan tak jemu-jemu.

Sudahlah, kiamat kan datang dan yang pertama kali hancur adalah struktur vertikal yang terpimpin dan yang terlacur. Karena apa yang diperjuangkan oleh kalian adalah perjuangan yang hanya angan. Perjuangan atas suatu yang tak nyata dan tak terihat mata. Sungguh disayangkan, kalianlah yang harusnya memperjuangkan kalian sendiri yang tak bisa berdiri sendiri. Mencari teman layaknya penis yang kehilangan biji – berereksi namun tak mampu membuahi.

Berkostum revolusi, berjiwa masturbasi.

Aku butuh nilai yang nyata.

Aku butuh wacana atas nilai kemanusiaan yang nyata, dan penuh belas kasihan; dan intinya aku tidak butuh kalian.
Aku butuh bentuk interaksi yang nyata, dan berasas atas aksi reaksi yang alami dan sempurna disegala sisi; bukan sebuah manifestasi atas wacana yang lapuk dan mengutuk semua diluar kalian sebagai individu yang kurang pantas dikasihi.

Kalianlah bentuk intervensi yang paling menjijikan.

Menjijikan karena sungguh tidak bergunanya apa yang kalian bawa, dan sungguh tidak ada esensinya atas apa yang kalian gaungkan, dendangkan, dan teriakkan dengan lantang.

Kalian adalah kelompok yang kusesalkan, kelompok yang kusayangkan tidak lagi kusayang.
Karena kalian menjual cinta tulus dengan kepentingan yang menusuk terhunus hingga ujung anus.
Karena kalian terlalu mengobral, sibuk berkomoditas, dan akhirnya terhempas.

Sampai jumpa di ujung neraka yang terkelam, atau di jurang surga yang paling benderang – sampai dibutakan kalian oleh cahayanya dan menjadi malam selamanya.