Side B – Kamu 

Kepada kamu,

Kamu sebuah tujuan.
Memberiku alasan atas segala yang kupertanyakan.

Kamu adalah kiasan.
Sebuah cita yang kunanti dan layak menjadi cerita.

Kamu membuatku.
Melakukan segala yang layaknya aku, tanpa harus mempertanyakan segala yang berlaku.

Kamu mendengarku.
Dalam tiap kata baris cerita dan segala untai diksi yang nyata, aku ingin meluangkan kisah sebagai bekal dekapmu kala gulita.

Kamu ambisiku.
Aku ingin dan aku tak mau yang lain, karena aku sudah letih mengejar segala yang mungkin. Mungkin saja, kamu bukan ekspektasiku… mungkin saja, kamu tuju pelengkapku. Karena kamu ambisiku.

Kamu melihatku.
Setiap balik bayang yang menutupi pandang, aku rela kamu terawang. Aku persilakan kamu masuk di tiap tatap yang tertukar, di tiap kelebat yang menghantar. Karena kamu satu tatapku.

Kamu yang terakhir.
Membuatku ingin berhenti berfikir. Menyerahkan segala dalam ikhlas yang tak berujung akhir. Karena kamu, aku ingin berakhir. Dalam sebuah titik nadir yang saling menyingkap hadir. Satu sama lain dalam jalinan ikatan takdir. Semoga temu akan jadi sarana jumpa yang tak jemu untuk kamu tamui dan sejenak hadir.

Kamu yang pertama.
Dalam mengakhiri segala tanya. Semoga menghiasi segala nuansa. Dan aku tak hanya ingin menyata dalam sebuah detik detak semesta. Aku mau berhenti saja, karena kamu yang pertama untuk aku jadikan akhir tujuku.

Walau sekian waktu adanya, aku telah jatuh dalam di dalam kamu adanya.

Semoga Kamu, duhai titik pelita dalam gulita.

Side A – Aku(i) 

Aku impulsif, adiktif nan sensitif.
Aku ingin kamu.

Aku meronta dalam tatap buta.
Ingin melihatmu.

Aku mengejan rasa dalam segan.
Ingin menemanimu.

Aku membuncah dalam sunyi yang indah.
Ingin merindumu.

Aku mengurai dalam senyap di tiap helai.
Ingin membelaimu.

Aku menjulang dalam arah tak bertualang.
Ingin menujumu.

Aku menyelam dalam damba terdalam.
Ingin merasukimu.

Aku mengejar dalam ladang doa yang terhampar.
Ingin mengasihimu.

Aku menyendiri dalam segala cipta yang berdikari.
Ingin mendengarmu.

Aku impulsif, adiktif nan sensitif.
Aku ingin kamu.

Lore of Gore III: Dekonstruksi

Tarian para suster mengiringi rana ini menjelajah langit-langit rumah sakit yang bersih tanpa sedikitpun bercak darah, dan ampas organ yang berceceran. Hanya ada deretan pelita lampu putih yang menyilaukan, menyorot memberi bentuk yang memayungi beragam sudut di ruangan, koridor, hingga sela sela lipatan, dan uraian organ tubuhku yang berserakan.

Mereka berkilau, tiada berkilah atas ketidakfungsiannya mengalirkan denyut nadi dan wadah jadi terampil. Aku terlentang layaknya serangga yang diawetkan.

Berbeda jauh dari mereka, aku disajikan layaknya purnarupa sebuah organisme. Dengan rangkai rakit organ yang dapat disusun dalam beragam pola dan alur hingga meracik sebuah mekanisme.

Mekanisme atas fungsi.

Kalau jamur itu namanya fungi.

Mungkin inginku akan terbangun dan hidup telah berjamur. Layaknya motivasi dari para penggali dubur yang terjemur. Aku menyeret tungkaiku hingga terkoyak demi menuju tujuan hidup. Namun segala tuju hanyalah ceruk dari jurang ketiadaan yang berlumuran nanah; mengajak mereka yang mengintip di tepiannya untuk terpeleset dan terjerumus dalam sebuah pola yang berulang.

Sebuah limbo. Sebuah ketiadaan yang dicanangkan sebagai sebuah keberadaan.

Kembali ke ruang otopsi, aku tetap menyala dengan nisbi.

Mereka dapat melihat tatapku dari kedua bola mata yang telah berada di luar rongganya. Tatapku menjalar, merunut segala pembuluh nadi yang tercecar, diluar wadah manusiaku. Mulutku menganga, tanpa selaput bibir dan menunjukkan deretan gigi-gigi yang telah berguguran.

Para suster tak bertungkai masih saja menari. Seolah meminta sebuah pelatuk bara agar aku menyala dan kembali terbangun dari sela-sela jemari kuasanya.

Apakah jawab dari sebuah tuju? Bercak darah segarku menjawabnya dengan pola morse di samping pembaringan.

Apakah arti dari segala tuju? Bercak darahku telah mengurainya dari awal aku datang dan dipisah-pisahkan oleh dokter dengan rahang yang menganga. Dalam pola biner.

Apakah arti dari mimpi yang menyala dalam gelap? Menjebak segala harap dengan tepat. Menjerumuskan segala misi yang mengisi relung hati. Hatiku yang berkerak menghitam legam karena terlalu banyak menyia-nyiakan segala doa dan rapat aku peram.

Aku ingin berdansa, merayakan nelangsa, bersama jalinan organ yang tersisa, di atas pembaringan yang tersisa, di ujung nafas yang berbisa, di akhir genang darah yang terasa, di tepian lidah api yang memangsa.

PS.
Jemput aku dalam gelap, karena aku tahu kamu akrab dengannya.
Terima aku dalam lelap, agar aku dapat bangun dalam sisi mu sebagai pelita panduku.
Raih aku dalam dekap, hingga aku dapat akhiri segala api dan menyatu bagai dalam peram.

Lore of Gore II: Otopsi

Aku terbujur dengan diafragma menganga dan terus memburai darah, membuatnya terkulai dan pasrah.
Akhirnya, dokter dengan mulut menganga, menganjurkan untuk memindahkanku menuju kamar pendingin yang berbau asin, digarami agar makin dingin.

Di atas pembaringan bersuhu dibawah nol, aku menggigil tak karuan dan berseru memohon doa yang afdol.
Pada arena sebuah mimpi untuk memadamkan api, penanganan itulah yang harus aku lalui.

Dan perlahan, rusukku mulai membiru, ulu hatiku mengkerut dan mengerucut; jatuh menyamping dan sekarang berada di samping, berhiaskan usus-usus yang menari dan bergetar kecil. Lekas masukkan kembali makanan supaya ia tidak kelar. Mulutku berusaha mengambil udara yang tipis dengan terampil, helai dan lembar rambut rontok karena mengeras, dan matanya terbelalak terlapisi lapisan es tipis dan membuatnya terus meringis; karena dipaksa untuk terus melihat tanpa pernah bisa menggugat.

Oh, dokter yang menganga kemudian membawa amplas dan gergaji.

Perlahan ia mengamplas kuku-kuku kakinya agar halus, agar tidak lagi berkulit dan membuat sulit pekerjaannya, layak menjahit.
Walau perih dan deru mendera, walau pedih meminta, aku berdiam menatap langit-langit putih menyilaukan karena pasrah adalah jawab padanya.

Perlahan namun pasti, dokter dengan mulut menganga akhirnya habis mengamplas seluruh jari jemarinya, membuat corak genangan merah, dan kerak darah yang merembes di bawah tubuh; Aku kemudian ditinggalkan, sekaligus dengan tumpukan jarum suntik berkarat yang ditiadakan.

Di malam pertamannya di rumah sakit, aku kembali bermimpi, mengisi api, dan memberi jawaban atas beragam tapi.

Tiba-tiba, suster datang dengan kateter, membangunkan mimpinya agar jiwanya tidak tercecer; Aku harus tetap bangun dan tetap menyala bagai senter.

Kateter mengucap salam selamat datang pada rektum, menyelusup masuk dan mengintip lalu merasuk hingga pangkal lipatan usus terakhir; mengacak-acak jaringannya, dan menggerogoti fungsinya.

Aku harus tetap bangun, aku masih ingin menyusun mimpi yang akan dibangun.

Dan diujung sulur kateter, aku kembali ditemani dengan suster-suster yang berjemari dan menghampiri sembari berlari-lari kecil tak karuan.

Aku tidak sendiri, terjaga agar tidak tidur lagi dan menari dalam sepi yang beku dengan tubuh menganga mengais pilu.

Lore of Gore I: Koridor

Ia menelanjangiku; menjamah ruas kulitku dengan stetoskop bermerk paling top; wujudnya mulus, bening, menyentuhku dingin dan memberi segala sesuatu yang kuingin, namun tetap saja jadinya malah semakin mengerikan dan aku hanya ingin lari, tapi kemana?

Tapi ia adalah perwujudan mimpiku, ia pewujud mimpi, perupa mimpi, dan pelukis mimpi di siang bolong. Ia yang meronta meminta dibangunkan sejak pertama kali detak jantung ini mengalirkan darah ke rambat koridor seluruh tubuh.

Tolong.

Tolong, ia butuh dibantu dengan sebuah lolong, sebuah tolong dalam lorong, dan sebuah mimpi atas lorong.

Lorong gelap beraroma antibiotik dengan dokter-dokter tak berahang, dengan rongga mulut yang menganga mengundang terka.

Mereka ditemani suster-suster berpakaian putih dengan bercak noda genggaman para pasien – yang selalu berlarian tak karuan; ada yang menabrak dinding, ada yang meracau menjerit-jeritkan resep obat, dan ada pula yang bermasturbasi masal sembari merangkak, dan bahkan kayang. Dengan mata terpejam, di ruangan yang terang benderang. Menyilaukan.

Lalu para pasien menginjak-injak karpet penuh jarum suntik berkarat yang menjadikan langkah kaki mereka lebih berat dan seolah terjerat; jerat infeksi dan bakteri yang berbentuk seperti peri, peri yang mengabulkan keinginanmu, inginmu layaknya epidemi harapan yang sirna di ketiadaan dan histeria atas keberadaanmu.

Dijadikannya tali-tali rahim ampas janin yang sudah tidak diinginkan menjadi rajutan syal berbau darah kering dan amis seperti layaknya kain berbau pesing.

Dokter tak berahang kemudian memberikan diagnosa mengenai beberapa kemungkinan terindah baginya – dengan selamanya didalamnya. Tapi ia menolak, karena tak ada yang indah di dalam sesuatu yang dicap sebagai duta atas sebuah manifestasi rasa gundah – sebuah tuju asa yang terarah entah kemana.

Doa-doa dilantunkan seiring dengan grafik laju detak nadi ditemani dokter yang selalu menganga.

Dokter yang bermata bulat putih tanpa titik hitam; dihiasi urat-urat yang mengaliri menuju mata, selalu melihat tanpa pernah berkedip walau sejenak; hingga matanya selalu berderik-derik, namun tetap melihat ke segala arah.

Tatapnya tidak kosong apa yang ia tuju, namun menyeluruh dan membuat para pasien yang ditatapnya seolah luluh dan membuat gemuruh di dalam luruh jiwanya.

Sang dokter selalu berjalan dengan pakaian yang rapi namun bertungkai berlawanan arah, ia berjalan layaknya unggas, namun tetap elegan, karena ia seorang dokter yang selalu menganga.

Bahunya kecil, namun tungkai lengannya panjang, seperti primata; bedanya, dokter selalu menyeret-nyeret stetoskopnya, dan menebar jarum suntik di setiap langkah derita yang ia tinggalkan.

Dokter jarang membicarakan sesuatu, yang terdengar hanyalah deru nafas layak gergaji mesin yang terendam oli, dan memang dokter lihai menggunakan gergaji.

Tiba-tiba saja, suster tak berlutut mendatangi dokter. Ia datang dengan menyeret kedua kakinya, dan menyisakan garis genang darah di jalurnya. Ia kemudian memberi pesan sambil menahan rasa sakit karena tak mempunyai lutut; dengan lelehan daging cair di kedua tungkai kaki hingga telapak, ia meminta izin untuk pulang, yang segera dokter iyakan. Suster kemudian membuka celana dokter dan mengulum penis dokter seraya mencekik dirinya dengan tali stetoskop dan memasukkan beberapa jarum suntik berkarat kedalam labia mayoranya.

Suster telah pulang.

Dan aku tetap duduk dengan diafragma terbuka dan detak jantung yang perkusif, gaduh berirama.

Aku ingin pulang juga, dokter.

Dengung Dongeng Untukmu

Tolong tunjukkan padaku birama yang ingin kau nyanyikan.
Bacalah susunan tangga nadamu, bersama segala notasi di malammu.
Akan kuhidangkan telingaku untuk jadikan juru bicara khayalmu; menjadikan mataku sebagai tumpuan arahmu.
Di ritme malammu.

Tolong bawakan semua asa yang kau jadikan beranda dalam mimpimu.
Lihatlah suara atas anganmu mengelana menuju fana.
Biarlah ku disini menjadi pengantar menuju wahanamu; dan jadikan seluruhku menjadi tiket terusan untuknya.
Di festival malammu.

Akan kujadikan detik sang waktu menjadi metronom nadamu.
Kurakit sebagai instrumen pangantar tidurmu.
Akan kuberikan sentuhan dalam visualmu.
Sebuah kanvas putih untuk kau beri mimpi sebagai kuasmu.
Di karya malammu.

Karena walaupun bongkahan puisi terindah tak mampu kuberi.
Walau prosa paling romansa tak mampu kucipta.
Hingga frase penuh nada indah tak mampu kusaji.
Ada waktunya, sampai kalanya, akulah sang novel yang ikut kau isi dalam tiap lelap tidurmu.
Di lembar helai malammu.

Karena malam tak lagi sendiri, karena malam tak lagi mampu menepi.
Karena malam ingin menari, karena malam ingin kau iringi.
Karenanya aku akan ada di balkon terdepan kau berpentas; menyajikan mimpimu sebagai suatu opera megah yang tak akan semu.
Di megahnya malammu.

Selamat tidur.

*bagimu yang membacanya, tiada yang mengada dan aku tetap menjadi adanya.