Dengung Dongeng Untukmu

Tolong tunjukkan padaku birama yang ingin kau nyanyikan.
Bacalah susunan tangga nadamu, bersama segala notasi di malammu.
Akan kuhidangkan telingaku untuk jadikan juru bicara khayalmu; menjadikan mataku sebagai tumpuan arahmu.
Di ritme malammu.

Tolong bawakan semua asa yang kau jadikan beranda dalam mimpimu.
Lihatlah suara atas anganmu mengelana menuju fana.
Biarlah ku disini menjadi pengantar menuju wahanamu; dan jadikan seluruhku menjadi tiket terusan untuknya.
Di festival malammu.

Akan kujadikan detik sang waktu menjadi metronom nadamu.
Kurakit sebagai instrumen pangantar tidurmu.
Akan kuberikan sentuhan dalam visualmu.
Sebuah kanvas putih untuk kau beri mimpi sebagai kuasmu.
Di karya malammu.

Karena walaupun bongkahan puisi terindah tak mampu kuberi.
Walau prosa paling romansa tak mampu kucipta.
Hingga frase penuh nada indah tak mampu kusaji.
Ada waktunya, sampai kalanya, akulah sang novel yang ikut kau isi dalam tiap lelap tidurmu.
Di lembar helai malammu.

Karena malam tak lagi sendiri, karena malam tak lagi mampu menepi.
Karena malam ingin menari, karena malam ingin kau iringi.
Karenanya aku akan ada di balkon terdepan kau berpentas; menyajikan mimpimu sebagai suatu opera megah yang tak akan semu.
Di megahnya malammu.

Selamat tidur.

*bagimu yang membacanya, tiada yang mengada dan aku tetap menjadi adanya.

Alas Atas Alasan Aktual

Mohon ceritakan padaku apa itu kisah dongeng atas hidupku.

Ceritakan dalam susunan prosa dan puisi yang terbentang atas jalinan nafasku.

Nafasku akan selalu menjadi tinta dalam hamparan kain putih yang mudah terobek oleh pena tajam di atas susunan kata yang terlalu kau tekankan.

Menekankan pada perbuatanku, ataukah pada sesuatu yang belum kuperbuat?

Karena kain ini setipis kesadaranku.

Kesadaranku untuk mengetahui ini bukan sebuah meja judi dimana aku harus melempar dadu kala ingin menyetor jatah nafasku.

Karena nafas memang selalu ada untuk dijadikan taruhan awal.

Taruhan atas semua tinta yang kubeli untuk menuliskan semua tentangku dalam sebuah hampar polos yang terbentang.

Hingga akhirnya pelipis ini menipis.

Hingga akhirnya kutertawa atas apa yang kulewatkan dalam beberapa menit.

Hingga akhirnya kesadaran menjadi sebuah rasio atas nafas yang terenggut.

Padahal, nafas sama sekali tak pernah terpagut.

Hingga rimbun jembutku menemani.

Sampai genangan merah yang kulukiskan pada ciptaan kaumku, ia masih menemani.

Hingga pada akhirnya, menulis bukan hanya menggoreskan sebuah alasan, maupun kesan ataupun pesan.

Ini ajang benturan.

Menjadikan nafasku sebagai kanvas indah nan rupawan.

Dalam jelaga hitam yang mengering dan menjadikan raga ini sebagai bingkai.

Menggantikan tetesan tinta menjadi sebuah butir cairan yang mengeras menjadi arah dan pesan, bahkan membusur layak panah.

Kemana kita akan menuju bersama kaumku?

Hingga saat dimana seluruh bekas tulisanmu ya tuhan, menjadi alasan bagiku untuk mengetahui kalau aku masih mempunyai nafas darimu.

Entah selebrasi, ataukah sebuah akuisisi atas nilai yang ada.

Aku hanya tau ini adalah awal dari hingga.

Dibasuh hingga menjadi jingga.

Ditutupi hingga menjadi jelaga merah.

Dielus dan dipatri oleh mineral aktif yang sering berlaga.

Dalam tatanan biologis pembentuk raga.

Hingga akhirnya dongengku belum selesai sampai.

Sampai sampan nafasku bermuara bukan menuju lautan.

Namun menuju alir sungai penuh dengan panutan.

Panutan atas keleluasaannya menciptakan alur yang berkesan.

Bagi seluruh ciptaan.

Hingga tak ayal aku tak berdefinisi atas hingga dalam karyamu.

Ini karyaku.

Hingga aku terangkat menuju sebuah perangkat baru yang kau buat erat.

Erat dengan nafasku yang semakin berkarat.

Sampai sempat kau katakan bahwa lebih tepat semua nafas menjadi pekat pada ujung kisahku.

Dan pada hingga aku tahu aku tak bisa hinggap.

Aku akan memanen semua yang kau beri, memanen semua yang kau cipta.

Agar aku dapat menghargai dengan nilaiku, persepsiku.

Karena semua masih menulis di kainku.

Menulis dengan tinta nafasku.

Terimakasih.

Kriya Binaria

Memangnya, siapa dia menyamakan dirinya dengan siapapun? Jika ia sungkan tuk melihat panorama grafis bertumpuk secara langsung,
langsung saja tengok tanpa menunggu angka-angka yang bertambah di sudut.

Sudut wacana tak nyata dari apa yang saudara se-rahim kita bilang itu adalah referensi dari yang akan nyata.

Nyatanya, tak ada satupun yang mampu melihat dari susunan fakta.

Entahlah, sekarang mata uang sudah tertutup oleh mata telinga yang berfluktuasi atas waktu yang telah merunduk merendah.

Nilai tukar waktu kita merendah.
Terlalu menderai jari kita mengadah.

Atas susunan aksara layaknya peta yang ditunjuk panah.

Rangkumlah semua lamanmu dalam binari.

Satuan alpha omega yang bertautan layaknya lokomotif yang menari.

Loko telah masuk depo.

Depo berkerangka realita.

Loko yang terus mengumbar identitas imajiner di susunan biner.

Hingga ususmu berevolusi dan berpindah menuju kepala.

Hingga adanya mata melihat spektrum mengulum mencandai imaji dalam wadah lapis elektroda yang berpiksel.

Seakan nutrisi, maupun zat gizi membuatmu lupa akan hakiki dari buliran, aliran padi.

Karena tak ada satupun butir padi dalam jejaring.

Padi terlalu kecil tuk dijaring.

Entahlah, ibu jari lebih bermakna daripada menjepit sendal hijau berlogo bangau.

Hingga dunia dapat terlihat oleh kau.

Oleh ibu yang bermata, jempol dengan telinga.

Nyatanya, kita berdandan dan berkarya dalam griya.

Nyatanya, panel visual menelanjangi kita dalam dunia semu dan maya.

Seakan karibmu adalah dirimu, dan kualitas atas sahabat hanyalah kuantitas dalam rumah binermu dan anti-depresan dari tuntutan hak bersosialmu. Hingga kau mengadat tobat membutuhkan obat jika tidak melihat panel cairan kristalmu.

Kerap kalanya media menjadi setia menemani pria mencari sasaran pemenuhan birahi mereka yang sia-sia. Dilakukan di dalam realita dan mengaduh aduh pilu bertanya pada tuhannya yang tiada.

Hingga kiranya ketuhanan tidak berlaku dalam imaji visual yang tertahan.

Karena harga sewa atas tuhan sangat murah di sini.

Karena dimana tuhan mencipta, ciptaannya yang dikutuk dapat mencipta sesuatu agar dapat merasakan ketuhanan-mu, ya tuhan.

Hingga saat norma mengaduh pada moralita di dalam, semua telah terlambat.

Hingga saat semua sudah terlambat, maka moralita menjadi sebuah relatifitas atas makna dan budaya.

Sebuah sistem kriya, dan karya sistematis, terkulturalisasi dan menjadi sebuah suku maya yang berbicara melalui jari jemari.

Maaf.

Kenang Dalam Ruang

Kurindu romansa telinga bertemu mata dan hati yang menjembatani, dan mungkin, sebagai penghulu atas mahar berupa susuanan frase yang meng-atase kan persepsi atas keyakinan.

Jika, jika memang infra, dan nada pita merah dalam pipa nafasku tak mampu menjadi visual dalam rana mu, aku akan peduli.

Karena memang hanya sedikit… Satu, oh, dua, oh mungkin, tiga kerabat spesies yang bisa.

Aku tak suka menggambar not balok dalam kepalaku di satuan kanvas rana mu.

Karena kanvas yang lain itu sempit.

Aku menyukai kenyamanan dalam bervisual.

Entah akan jadi sebuah adegan anal, atau susunan tatanan kata yang banal.

Aku suka itu.

Bagai menyodomi persepsi hanya untuk membuatku merasa telah menguncimu dalam satu ronde pertandingan gulat. Bahkan, sampai frase ku melarat. Dan ranamu terbelalak.

Laknat.

Berteman dengan sesama spesies itu laknat.

Kita berspesies, tapi saling berspesialisasi, satu sama lain atas ego dan paradigma mekanis dalam hubungan verbal diantaranya… Oh, masih ada yang mau main anal sepertinya.

Jadi tolonglah… Jadilah bunker atau Louvre bagi visualku, piringan hitam bagi nadaku, dan kriptogram bagi diksiku.

Karena kalian adalah satuan pandangan, dan aku ingin ada dalam bingkai diafragma kalian.

Terpatri dalam rana, dan tersudut oleh cahaya.

Jangan beri aku gelap, karena mungkin lelap tak memberi intuisi untukku.
Jangan beri aku terang, karena mungkin binar telah ada lebih dulu. Untukku

Sajak Penuh Kasih Bagi Sang Lelap

Jika sekarang kantuk tak dapat dibeli, dimana lagi waralaba yang menjual kondensasi berisi pil seukuran kelingking jariku?
Ah aku mengantuk!
Aku ingin bernyanyi tentang kantuk, aku ingin bercinta dengan kantuk, dia tahu kantuk bukan milikku…
Aku ingin berlayar berpesiar dengan kantuk, aku ingin kantuk membelikanku alarm, ataupun bel, dari susunan emas bercampur karat, hingga jika dipukul kantuk tak akan sirna dariku.
Hitunglah hingga berpuluh tahun aku meniup lilin, aku ingin kantuk sebagai kado terindah.

Karena, semua yang pernah terkantuk, tersangkut, maupun terangkut oleh sebuah kuantitas kuesioner hingga mereka tidak bisa dijabarkan lagi; apakah ia manusia, ataukah sebuah industri yang terdapat atasnya? Apakah ia hasilnya, ucapannya, maupun sentuhannya di garis-garis guratan besi? Di pahatan balok kayu pinus yang nyaring, maupun di sosok badut terkotor yang suka menyapu lantai, oh aku mau mereka mau, menjadi tujuan kantukku.

Tolong jangan ganggu cintaku terhadap kantuk, karena kantuk adalah obat segala tanya, obat dari segala obat, dan aku tak ingin membuatku kelu dan rapuh kalau tak ada kantuk.

Kantuk itu tuhanku, kantuk itu jalanku, aku ingin kantuk di kala sepuh.
Sekarang sudah tak cemas kutanya, dan awas saja, jika aku mau kantuk ada untuk kuperas.

Hei, kantuk, dengarkah dirimu? Kalau ada seorang lain tau kantuk tidak mau aku sendiri bersamamu, aku hanya ingin kamu tahu, jika menurutku semua sudah terlambat. Maka semua jaringan merah muda penyambung nafasku telah menjadi abu, pipa merah pucatku telah menjadi radang dalam laparku, gumpalan keringatku telah berbau gandum basi dan membentuk bulir hasil kondensasi mematikan jika dicampur balsem pijat.

Kalau lah belum terlambat oh kantuk, maka berikanlah aku gantimu. Aku tak mau memakan kantuk, karena kantuk itu cinta. Aku tak mau memakan cinta karena kantuk tau dia bukan temannya. Aku ini kantuk, dia bukan tanda bersauh.

Saat kantuk menyapa, wahai pemujaku, aku akan berada paling depan laksana kau sebagai patron protagonis dalam drama musikal terhebat dan termegah di relung lubang telingaku.

Lekas ciptakanlah konser setiap malamku agar aku mengagumimu, duhai kantuk.

Kantuk bukan hormon, lalu mengapa para pendikte tuhan atas ciptaannya membuatmu terlihat begitu simpel, oh kantuk?

Kantuk aku ingin tahu.

Apa yang bisa kulakukan agar kantuk mencintaiku?

Aku mau kantuk tahu aku ingin menunduk mengaduk intuisiku untuk jejak pijak kedepan. Aku bukanlah definisi atas pukul 3 malam. Dan aku bukanlah logika atas jam 12 siang.

Bukan kantuk yang kusalahkan, bukan kantuk yang kuimpikan.

Tarik saja diafragmaku dan bilik kiri jantungku hingga kutemui kantuk disana.
Bangunkan aku di kala sepuh.

Bangunkan aku sebelum lipatan keriput merah ini semakin melegam menghitam tak karuan. Mengemis atas pasangannya yang masih pucat. Uhh, kantuk aku mau.

Selamatkan dari imaji visual yang tak karuan dan menjijikan seakan semua yang terlihat adalah gambaran selangkangan berjamur yang tak pernah dijemur. Hingga aliran muntah dalam perut ku terbuat karena aku mau menyambut kantuk dengan bersih dikamarku.

Mari kantuk jemput aku dalam testimonimu, profilmu, dan segala atasmu.

Hingga tak perlu kau berjalan jauh untuk menemukanku dalam daftar hadiah yang harus diberikan sinterklas ketika natal, maupun tersembunyi di dalam jalinan hijau berisi nasi kepal.

Ayo kantuk ketok pintu.
Dan jemput aku agar membantu.

Argumen Politis Skeptis Non-Kompeten

Sekarang orang suka makan kursi.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.

Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.

Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.

Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.

Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan ASI,
pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.

Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?

Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.

Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.

Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.

Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.

Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas oleh tsunami?

Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.

Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.

Persetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.

Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.

Menebas Candu Selayak Menebus Rindu, Padamu.

Aku telah berdansa dalam api, menari dengan belati.

Sekarang api membakar kepala hingga guratan otakku mengering kering matang.

Siapa mau otakku?

Belati sukses kutelan dan sekarang peniti-peniti menjadi asam lambung sebagai sarana mencerna paku dan pecahan kaca.

Aku muak terhadap apresiasi atas adiksi.
Karena memang hidup cuma sekali, maka tak perlu membuka lebih dari satu, bukan?

Siapa suruh jika sekarang lebih mudah untuk jatuh cinta?

Cinta terhadap kondensasi berkuantitas persen.
Aku tak mau mengemis sen demi sen, karena aku ingin jalan yang lurus.

Ketika api dan belati membuatku menggigil dan berkedut-kedut ketika malam, oh tuhan, kirimkan saja malaikatmu untuk mencumbuku.

Mencumbuku hingga habis nafas di paruku dan menyisakan batu bara cair yang membara dengan api di dalam setiap cabang dan jalinan alveolus-ku.

Aku hanya ingin diam, tuhan.
Tapi mengapa tuhan tak bisa diam?

Aku hanya ingin mandiri, tapi tuhan tak mau sendiri.

Aku tahu tuhan marah padaku.
Tapi tuhan tak pernah menjelaskan definisi atasnya.

Aku mau tau tuhan.
Aku mau berikan aku air, berikan aku bantal.

Aku ingin padamkan api dan menyimpan belati dalam bantal.
Hingga nanti tak perlu lagi menelan tajam dan bermandi bara ketika ku takut.

Tapi menjadinya ketika ku berani.

Aku hanya ingin berhenti.
Tolong, aku penat.

Penat dan kumat hanyalah sebuah definisi tak berdefinitif terhadap suatu bentuk solutif aktif yang adiktif.

Jadikan aku nabi dalamku, dan engkau patronku.
Aku tak punya tujuan, sedangkan nabi membuat tujuan.

Hingga akhirnya api ini nanti padam, maka buatlah api itu membakar belatiku juga.

Adiksi, diksi, dan sebuah (a) diksi.

Menjadikanku fiksi dalam layar datar kristal yang menghampar proton elektron lalu menjadikannya satuan pelangi yang membentuk imaji.

Hingga aku lebih suka mencumbu genangan darah dari kerongkongan dan airmata aseton untuk mengobati luka di hatiku.

Aku sakit, itu benar.
Aku sehat, itu baik.

Keparatlah kalian yang tak bisa kusalahkan karena aku sendiri memang kualat.

Terkutuklah orang tuaku dan tenggelamkan saja kapal-kapal itu atau bisa saja aku membakar mercusuar itu, dan membabat habis segala berhala yang berupa para penjaga yang tak berdosa.

Bukan ingin menghilangkan arah.
Tapi ingin diam dan berserah

Tapi apa daya?

Aku membusuk dan merambat berlumut.
Ingat… Karena ini bukan lubang pubertas, ini jurang realitas.