Lidah Lidah Belati, Siapa Yang Makan Hati?

Segerombolan pembawa bencana berlarian membawa sabit yang terjepit.
Mereka menebas-nebas gerombolan lain yang berpanjikan wacana berbeda aliran dan membawa celurit.

Lalu mereka saling menuang, menyuling darah di setiap tebasan yang mengarah.
Hingga menjadi membusuk bernanah karena ditinggal tak berguna sudah.

Kasihan yang mati tak memakai usaha padahal membawa senjata serta.
Terpujilah yang menebas dengan usaha karena mereka lebih tajam memaknai derita.

Disaat semua kata telah menyadur derita, disaat senjata telah bersangkur tumpul dan butuh tutur sampul…

Ayo, mari kita mati sajalah dalam sebuah ladang kebaikan yang sejati, daripada membelenggu hidup pada kelayakan yang patut mati.

Derit Benci Yang Tidak Irit

Dan kulihat kalian menggeser makna baik, dan membuatku tertarik – karena apa yang menjadikan kalian layaknya seonggok tahik.

Dalam konteks baik yang kalian lihat, hanyalah sebuah bongkah omong kosong penuh intrik yang menggelitik, dan tak pernah membuatku melirik.

Silakan tuduh aku sirik, namun ku tetap mengumpat dengan jujur dan berisik.
Silakan sidang aku yang tak pantas diundang, namun ku tetap menghadang dengan lantang nan tenang.

Kalian mendefinisikan yang bukan kalian; kalian yang menghakimi diluar persidangan atas kalian – dan diluar kalian.
Kalian memerdekakan diri kalian sendiri atas umpan pekikan, dan perkataan yang memenjerakan yang lain selain kalian.

Dan aku akan menertawakan segala hal yang kalian lebih-lebihkan. Atas manifestasi rasa kemanusiaan kalian dan atas nama komunitas yang tak pantas. Kalianlah sebuah fondasi yang telah basi namun tetap dianggap sebagai asupan pangan yang penuh angan; dan segala hal telah menjadi gurat keriput lubang di lubang anal.

Dan kemudian mulut kalian mengerucut; menunjuk-nunjuk yang lain seolah kalian yang menuntut kebenaran yang patut.
Namun dengan pintarnya, bodohnya kalian menjadikan yang lain menjadi sedemikian lebih pintar dari kalian.

Mengertikah kalian?

Kalian yang tidak sederhana. Kalian yang bersenjatakan bencana berbalut wacana.
Sudahlah, ayo bercanda saja tak perlu sebegitu seriusnya bertanya dan malah tak berguna.

Kasihannya, diluar sana masih banyak yang seperti kalian. Yang menjual nilai dan mengobral norma utopis; menyelenggarakan baazar atas konsep kebanggaan yang semu, dan tetap saja, kalian berkoar-koar tak tahu malu nan tak jemu-jemu.

Sudahlah, kiamat kan datang dan yang pertama kali hancur adalah struktur vertikal yang terpimpin dan yang terlacur. Karena apa yang diperjuangkan oleh kalian adalah perjuangan yang hanya angan. Perjuangan atas suatu yang tak nyata dan tak terihat mata. Sungguh disayangkan, kalianlah yang harusnya memperjuangkan kalian sendiri yang tak bisa berdiri sendiri. Mencari teman layaknya penis yang kehilangan biji – berereksi namun tak mampu membuahi.

Berkostum revolusi, berjiwa masturbasi.

Aku butuh nilai yang nyata.

Aku butuh wacana atas nilai kemanusiaan yang nyata, dan penuh belas kasihan; dan intinya aku tidak butuh kalian.
Aku butuh bentuk interaksi yang nyata, dan berasas atas aksi reaksi yang alami dan sempurna disegala sisi; bukan sebuah manifestasi atas wacana yang lapuk dan mengutuk semua diluar kalian sebagai individu yang kurang pantas dikasihi.

Kalianlah bentuk intervensi yang paling menjijikan.

Menjijikan karena sungguh tidak bergunanya apa yang kalian bawa, dan sungguh tidak ada esensinya atas apa yang kalian gaungkan, dendangkan, dan teriakkan dengan lantang.

Kalian adalah kelompok yang kusesalkan, kelompok yang kusayangkan tidak lagi kusayang.
Karena kalian menjual cinta tulus dengan kepentingan yang menusuk terhunus hingga ujung anus.
Karena kalian terlalu mengobral, sibuk berkomoditas, dan akhirnya terhempas.

Sampai jumpa di ujung neraka yang terkelam, atau di jurang surga yang paling benderang – sampai dibutakan kalian oleh cahayanya dan menjadi malam selamanya.

MLM: Multi Layer Metropolitan

Jaringan tata kota merupakan jaringan penuh kolesterol jenuh dan pekik seru ‘kontol’ pada satuan meter benci yang paling ampuh. Metropolitan adalah simbol terkini dari sikap kesetanan dan segala kendali liar tak beralasan.

Di segala hujan dan ketika tertutup awan, metropolitan adalah miniatur kecil arena tarung yang tidak bernurani; ia beremulsi atas ambisi, dan mengasimilasi masing-masing ego individu di dalamnya; menjadi ruang atas bibit benih segala bentuk pemberontakan muda yang tak kenal reda.

Dan di semua cita-cita yang dianut oleh sang kota tercinta, hamparan harap tersebut hanyalah pengalihan terburuk atas realita; dan kita, sebagai mata didalamnya, merasa kurang cukup dibutakan oleh polutan kendaraan tanpa perasaan yang dikendarai oleh budak sistem kejar setoran – yang menghilangkan semua kemungkinan moral atas pengguna jalan lain yang merasa dipinggirkan.

Lalu, seperti bentuk kota lainnya; dengan slogan mimpi yang penuh semangat dan diucapkan dengan berapi-api, metropolitan kini hanyalah teras atas sebuah rumah besar penuh jiwa-jiwa yang mengeras. Ia ditopang oleh pilar-pilar terdiri dari tumpukan manusia yang dikategorikan dalam golongan menengah ke bawah menurut orang-orang yang menggolongkan diri sebagai orang-orang dalam golongan menengah ke atas.

Metropolitan adalah sebuah segitiga ekosistem, dengan pria-pria tambun berjas sebagai predator yang jelas memangsa dengan buas dan penuh kenikmatan tanpa memikirkan karma yang terbalas atas perbuataannya yang naas. Sedangkan mereka yang datang tanpa jaminan, adalah kelinci-kelinci yang tak bertungkai kaki, tak bisa lari, apalagi sekedar menyenangkan kelinci lainnya dengan menari; mereka mudah dimangsa, dan bahkan memangsa sesama, hingga menjual harga nyawa demi sebuah sarana penyambung nadi.

Metropolitan adalah sebuah pelarian atas jiwa-jiwa yang haus akan makna ketuhanan. Mereka menciptakan peraturan agar terus menjadi tuhan bagi sesama. Mereka tidak ingin tersentuh, tidak ingin terlihat; namun karya ciptanya, mencipta kutuk bagi yang lain; meminta bentuk yang pasti atas pemujaan-pemujaan terselubungnya.

Tak dinyana, metropolitan adalah sebuah sarana simulasi bencana di neraka; sebuah wahana yang tidak akan pernah disadari oleh tuhan sekalipun.

Lalu metropolitan menjadi contoh bagi calon-calon metro lainnya. Inilah yang dinamakan MLM kemudian, multi layer metropolitan; menciptakan neraka tanpa usaha, dengan sistem passive income, mendatangkan derita dengan membuang-buang pahala.

Dan terakhir, metropolitan tidak mengenal belas kasihan. Metropolitan tidak mengenal kalian juga tentunya. Ia ingin dikenal tanpa harus mengenal kalian. Jika kalian berusaha tuk dikenal, kalian akan disodomi dengan simbol tugu yang terkenal.

Dalam metropolitan, terdapat umpatan.
Dalam metropolitan, terdapat pujian.
Dalam metropolitan, terdapat sebuah pesan: “Salah sendiri.”

Untuk Segala Peluh di Gemuruh Kota yang Meluruh

Ayo kawan, lekas menjadi satuan komoditas yang tak bisa melawan.

Yang menagih peluh keringat yang tak sepadan, dan gigih membawa jatuh nominal penuh hutang.

Dan dimana matahari sedang bertamu di teras, mereka telah bergulat mengulat dalam aspal yang keras.
Dan disaat matahari akan mengucap salam pulang, mereka masih merintih meringis terpecut dalam sarang.

Ayo teman, lekas menjadi piranti industri yang tak pernah mati.

Yang bekerja dengan bahan bakar kalori, dan meringis – mengikis membuang naluri.

Dan dimana raga masih menggeliat melambat, mereka telah giat bercengkrama dengan satuan materi padat.
Dan disaat raga telah menghela dan bernafas lega, mereka masih mencela dan mengira semua masih berjalan dengan tega.

Ayo sobat, lekas menjadi sumber daya manusia yang tak berdaya.

Yang menguras mimpi dan seluruh ambisi menjadi opera dengan jalur cerita yang basi. Tanpa simpati.

Dan dimana kakek sedang berjuang untuk bergegas dari tempat tidurnya, mereka sudah bangun dan berjuang mendapatkan tempat tidurnya.
Dan disaat kakek sedang berusaha untuk tidur, mereka masih terjaga dan berharap pulang menuju kasur dengan semangat yang tak kendur.

Ayo lekaslah kalah.
Ayo cepatlah lelah.
Ayo segeralah gundah.
Ayo gunakanlah arah.

Kepada Empati, Lilit yang Tiada, dan tak Terhingga

Dikala sembilu mengalunkan lantun yang menuntun hingga aku berlalu.

Lalu semua berlarian…
Lalu semua berguguran…
Dan lalu, semua menjadi keterlaluan…

Lalu ada, dan pilu reda, setelah degup dada atas segala tanya menjadi sebuah permintaan terakhir atas ketidaktahuan yang absolut; sungguh merinding mengilu hadirnya membuat takut.

Dan dibalik ketidaktahuan, bersyukurlah segala pilihan atas pengetahuan; namun tetap tidak akan mengurai simpul bebas yang berujung pada keputusan; diluar segala keputusasaan, diluar seluruh kepuasan nan temporer, dan diluar – sungguh berada diluar ranah lapang kejujuran.

Sungguh arah membuat jalan kita menjadi lelah. Ia dituju dan dilaju oleh kaki yang meninggalkan bercak nanah; keduanya tidak melambat dan memelan perlahan, namun malah – malah membuat gerah, gerah di sela jari-jari kakinya, kesah di sela-sela pita suaranya, dan pernah menggores-goreskan arah di segala tujunya.

Disaat semua mata angin berada di tengah, itu adalah waktu dimana matinya status dan klaim terhadap label menang dan kalah.

Dan disaat semua gravitasi menjadi bilangan nol mutlak, disitulah dimana pijak menjadi gelak tawa yang dibumbui penuh oleh caci pada diri secara telak – dan skak.

Namun, sebelum situasi nan genting dan gawat itu mencuat, hingga menjadi penting dan butuh dirawat, kondisi nan prihatin atas sebuah ragu yang terjalin harus tetap dijamin. Terjamin di atas sebuah pertaruhan, sebuah pergulatan, dan sebuah pencobaan pembunuhan diri.

Ingat dalam setiap detik kamu memekik:

Disaat fakta mencekikmu, disana argumentasi masuk menukik meminta harapmu.
Disaat fakta memburai otakmu, disana opini mengurai meminta laju detakmu.
Disaat fakta menikammu, disana pesan perlahan membisikimu atas sebuah penderitaan yang sejatinya membuatmu perih pedih sampai sisa tetesan darah terkahirmu mendidih – dan terus menggurat membuat lirih.

…Terus menerus dan tak pernah lelah mengurus sakit yang berdefinisi mampus.

Lalu aku akan musnah terbunuh lelah.
Lalu aku akan pasrah tenggelam oleh genang dan gurat nanah.
Lalu aku akan jengah terseret, tertembus terbawa darah.

Terserah, jika kamu ingin aku pasrah, biarkan aku mengadah menjadi wadah segala resah dan kilah dari segala isi dalam dirimu yang tercurah.

Side B – Kamu 

Kepada kamu,

Kamu sebuah tujuan.
Memberiku alasan atas segala yang kupertanyakan.

Kamu adalah kiasan.
Sebuah cita yang kunanti dan layak menjadi cerita.

Kamu membuatku.
Melakukan segala yang layaknya aku, tanpa harus mempertanyakan segala yang berlaku.

Kamu mendengarku.
Dalam tiap kata baris cerita dan segala untai diksi yang nyata, aku ingin meluangkan kisah sebagai bekal dekapmu kala gulita.

Kamu ambisiku.
Aku ingin dan aku tak mau yang lain, karena aku sudah letih mengejar segala yang mungkin. Mungkin saja, kamu bukan ekspektasiku… mungkin saja, kamu tuju pelengkapku. Karena kamu ambisiku.

Kamu melihatku.
Setiap balik bayang yang menutupi pandang, aku rela kamu terawang. Aku persilakan kamu masuk di tiap tatap yang tertukar, di tiap kelebat yang menghantar. Karena kamu satu tatapku.

Kamu yang terakhir.
Membuatku ingin berhenti berfikir. Menyerahkan segala dalam ikhlas yang tak berujung akhir. Karena kamu, aku ingin berakhir. Dalam sebuah titik nadir yang saling menyingkap hadir. Satu sama lain dalam jalinan ikatan takdir. Semoga temu akan jadi sarana jumpa yang tak jemu untuk kamu tamui dan sejenak hadir.

Kamu yang pertama.
Dalam mengakhiri segala tanya. Semoga menghiasi segala nuansa. Dan aku tak hanya ingin menyata dalam sebuah detik detak semesta. Aku mau berhenti saja, karena kamu yang pertama untuk aku jadikan akhir tujuku.

Walau sekian waktu adanya, aku telah jatuh dalam di dalam kamu adanya.

Semoga Kamu, duhai titik pelita dalam gulita.

Side A – Aku(i) 

Aku impulsif, adiktif nan sensitif.
Aku ingin kamu.

Aku meronta dalam tatap buta.
Ingin melihatmu.

Aku mengejan rasa dalam segan.
Ingin menemanimu.

Aku membuncah dalam sunyi yang indah.
Ingin merindumu.

Aku mengurai dalam senyap di tiap helai.
Ingin membelaimu.

Aku menjulang dalam arah tak bertualang.
Ingin menujumu.

Aku menyelam dalam damba terdalam.
Ingin merasukimu.

Aku mengejar dalam ladang doa yang terhampar.
Ingin mengasihimu.

Aku menyendiri dalam segala cipta yang berdikari.
Ingin mendengarmu.

Aku impulsif, adiktif nan sensitif.
Aku ingin kamu.